Siti Jenar mengusung konsep ketuhanan (teologi) manunggaling kawula lan Gusti yang bertentangan dengan konsep ketuhana Wali Songo (para ulama khusus di tanah Jawa). Karena konsep ketuhanan Siti Jenar dianggap berbahaya, para ulama (Wali Songo) mengadakan sidang dan bersepakat untuk menghukum mati Siti Jenar.
Hal ini cukup beralasan karena konsep teologi Siti Jenar berbahaya bagi orang awam. Maka sesuai dengan kesepakatan majlis permusyawaratan para wali, Siti Jenar yang membawa nilai ketuhanan absolut harus dihukum mati.

Konsep teologi Siti Jenar yang melahirkan polemik adalah tentang kehidupan dan kematian serta manungaling kawula Gusti. Menurut Siti Jenar, yang lahir pada 1404 M di Persia, Iran, kehidupan hakikatnya adalah kematian. Sedangkan, kematian adalah merupakan awal hakikat kehidupan.
“Walal akhiratu khairun wa abqa,” (dan sungguh kehidupan ahirat itu lebih baik dan lebih kekal) (QS. Ad-Dhuha: 4). Artinya, bahwa kehidupan adalah kepastian menuju kematian yang merupakan kehidupan yang abadi. Keabadian adalah kehidupan yang sesungguhnya.
Ibnu Arabi
“Maha Suci Dzat yang menciptakan segala sesuatu, dan Dia adalah segala sesuatu itu sendiri.”
Muhyiddin Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah Hatimi at-Tha’i (14 Agustus 1165-16 November 1240) atau lebih dikenal sebagai Ibnu Arabi adalah seorang sufi terkenal dalam perkembangan tasawuf di dunia Islam.
Terkait dengan konsep teologi, Ibnu Arabi mengusung kaidah wahdatul wujud. Sebuah konsep penteisme (hulul) atau ittihad (penyatuan diri kepada Tuhan), sehingga tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa Ibnu Arabi adalah kafir.
Ungkapan yang paling terkenal dari Ibnu Arabi adalah “Maha Suci Dzat yang menciptakan segala sesuatu, dan Dia adalah segala sesuatu itu sendiri.” Segala sesuatu adalah Tuhan dan Tuhan adalah segala sesuatu itu sendiri.
Pandangan ini menciptakan polemik di kalangan ulama (syariat). Ada yang mengatakan bahwa pandangan Ibnu Arabi adalah sesat. Sedangkan, lainnya menyebutkan bahwa hakikat teologi Ibnu Arabi telah mencapai hakikat kebenaran. Jiwa kemanusiaan Ibnu Arabi meluruh dalam eksistenai Tuhan, atau dalam konsepnya ittihad al-dzat (penyatuan zat).
Tafsir Kekinian
Di dalam KBBI dijelaskan bahwa milenial adalah orang atau generasi yang lahir pada 1980-an dan 1990-an. Penulis memaksudkan bahwa era milenial adalah generasi saat ini yang sudah terkoneksi dengan peralatan digital.
Pada era sekarang, orang-orang disibukkan dengan berbagai kehidupan sehingga nilai-nilai teologis seperti wahdatul wujud menjadi terabaikan. Persoalan ini akan semakin rumit manakala generasi saat ini tidak tersentuh oleh konsep-konsep ketuhanan, dan lebih-lebih lagi dengan konsep penyatuan terhadap entitas Tuhan.
Saatnya kita membahas tafsir wahdatul wujud bagi generasi milenial. Mungkinkah generasi kekinian dapat mengecap konsep wahdatul wujud? Jawabannya adalah, mengapa tidak? Karena konsep wahdatul wujud dapat diaplikasikan kepada seluruh generasi. Tentu saja, di masa-masa awal adalah bagaimana kita mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah dengan jalan (thariqah) yang telah dicontohkan Rasulullah.
Zuhud adalah lelaku para kaum sufi, yaitu mengekang keduniawian; bahwa dunia bukan prioritas dan tujuan utama. Akan tetapi, sikap zuhud ini merupakan sikap seorang hamba yang ingin lebih intens dalam melakukan pendekatan kepada Allah.
