Sejak saat itu, aku selalu memberitahu ibu atau ayah kalau ingin bepergian. Sebab, dengan meminta izin itu artinya meminta restu orang tua. Selama apa yang mau dikerjakan untuk kebaikan, baik bagi diri sendiri atau orang lain, orang tua pasti akan merestui. Restu ibu dan rela ayah merupakan doa mustajab yang akan memberikan perlidungan dalam setiap langkah kaki kita.
Senja itu, aku kembali duduk di depan jendela. Bingkai jendela yang menghadap ke barat, cukup memberikan pemandangan yang cukup asri. Burung sri gunting dan kutilang sesekali masih terdengar kicaunya. Itu juga menambah suasan yang begitu damai.

Sedetik berikutnya, wajah ibu tiba-tiba muncul di bingkai jendela. Aku terperangah. Degup jantungku serasa menghentak. Bagai dentuman meteor yang menghantam bumi. Aku mendekat ke arah jendela. Ibu tersenyum teduh. Bagai siraman salju di musim kemarau. Wajah itu begitu damai. Ya, wajah ibu. Yang selalu aku rasakan saat ibu masih hidup. Kepergian ibu membuat kuntum senyum itu luruh. Gugur dihempas angin sakal.
“Nak, apa kabarmu?” Ibu mengelus kepalaku. Terasa sejuk mengalir di seluruh tubuhku.
“Baik, Ibu…,” tersendat aku menjawab. Tiba-tiba aku tidak kuasa menahan haru. Emosi kerinduan membuncah dalam tangis yang menderai.
“Ibu, jangan pergi,…”
“Ibu tidak akan ke mana-mana. Ibu selalu ada untukmu, Nak.”
Pandangan ibu begitu lembut. Damai wajah itu selalu menghiasi raut yang penuh ikhlas. Gambaran kesabaran, tabah, dan teduh, senantiasa tergurat di raut ibu yang tabah. Selalu dan senantiasa. Tidak berujung dan tidak berakhir. Aku rebah dalam rengkuh peluk ibu yang damai. Sesekali ibu menina-bobokkan aku dalam kidung yang penuh makna. DZikir-dzikir ibu senantiasa menyelusup di relung nurani yang abadi.
Aku terhenyak. Ketika ibu pamit untuk pergi. Meski ibu berjanji untuk kembali. Tapi aku tidak percaya. Aku masih rindu. Tergagap aku memanggil ibu. Tapi ibu benar-benar tidak ada. Pergi entah ke mana. Mega merah di ufuk barat muncul. Seiring azan maghrib dari masjid sebelah. Takbir mengalun. Panggilan salat dan kemenangan bergetar di seluruh jagat menjelang malam. Riuh binatang nokturnal pun mulai mengalunkan orkestra malam.
Apakah aku bermimpi? Kuhapus wajahku yang terasa dingin. Aku tidak tidur. Serasa wajah ibu di bingkai jendela itu benar adanya. Dalam kenyataan yang sesungguhnya. Meski aku tetap ragu. Bukankah ibu telah berpulang beberapa tahun yang lalu? Tidak mengapa. Aku masih terus berharap. Ibu hadir meski hanya di bingkai jendela. Aku merasakan kasih dan sayang ibu. Aku merasa elusan tangan ibu. Aku merasa hela napas ibu yang sesungguhnya. Halusinasi? Bagiku tidak mengapa selama ibu hadir untuk menemani kerisauanku.
Hari berganti, dan waktu berlalu. Dalam problematika hidup, aku terjerat dalam sebuah masalah. Detik-detik seperti ini, kehadiran ibu adalah sebuah mukjizat. Aku ingin ibu kembali datang. Hadir dalam bingkai jendela. Di ruang tamu. Di daun jendela yang menghadap ke barat. Di sana biasanya ibu hadir. Memberikan nasihat. Menghibur saat aku sedih. Mengelus rambutku saat aku merajuk.
Sudah beberapa hari aku duduk di depan bingkai jendela. Namun ibu tidak kunjung hadir. Raut ibu tidak pernah muncul lagi. Adakah ibu marah? Tidak mungkin. Sebab aku tahu siapa ibu. Wanita yang berhati samudra, yang tidak ada kamus marah dalam hidup ibuku. Raut wajahnya yang teduh, senantiasa terukir seindah taman di surga.
Aku semakin gusar. Sekian lamanya aku duduk di depan jendela. Ibuku tak kunjung datang. Aku gelisah. Tiba-tiba aku marah. Entah marah pada siapa. Pikiranku kalut tidak karuan. Ibu yang kunanti tak kunjung datang.
“Prang!!!” Sebuah asbak beling yang ada di dekatku menghantam kaca jendela. Serpihan pecahan kaca berhamburan di ruang tamu. Istri dan anak-anakku terkejut. Mereka datang untuk melihat apa yang sedang terjadi.
“Ada apa, Mas?” tanya istriku tidak mengerti. Anak-anakku juga terlihat ketakutan. Aku semakin merasa tertekan. Aku merasa bersalah. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Maafkan aku, Dik,…” hanya itu yang keluar dari tenggorokanku. Selebihnya aku diam. Diam seribu bahasa. Aku tidak bisa menjelaskan perihal hubunganku dengan ibu. Mereka pasti tidak percaya. Mereka akan mencap aku stres. Gila. Tidak waras. Dan sudah sinting.
Esok hari, saat senja. Serpihan pecahan kaca jendela sudah dibersihkan. Kaca jendela pun sudah diganti. Aku harus memanggil Mang Kadri, tukang mebel tetangga sebelah. Tidak perlu memerlukan waktu yang lama. Jendela itu kembali seperti sedia kala. Aku duduk kembali di sebuah kursi. Di dekat jendela itu. Aku diam. Suasana tenang. Di luar cuaca cerah. Mentari masih menggantung di ujung barat.
