Tiba-tiba dari cakrawala berkelebat sosok putih. Semakin lama semakin mendekat. Semakin jelas. Nampaklah wajah ibu di atas singgasana warna emas. Begitu indah. Begitu mempesona. Ibu tersenyum teduh. Kedua bibirnya mengembang. Kedua mata itu memancar cahaya surga. Aku tertegun, sekaligus terperanjat. Setelah sekian lamanya, ibu baru muncul kali ini. Rinduku pun luruh. Berserak di petala ruang hatiku.
“Assalamu’alaikum, Nak,” ibu mendekat dan semakin jelas. Tangannya mengelus kepalaku. Desir sejuk mengalir di relung dadaku.

“Wa’alaikum salam. Ibu kok lama sekali gak datang?” aku menjawab salam. Sekaligus agak protes karena ibu tak kunjung bertandang.
“Bukannya ibu selalu di sisimu, Nak,” ibu berkata. Lembut terdengar di telingaku.
“Tapi aku rindu ibu.”
“Belum saatnya kau temani ibu.”
“Aku ingin selalu bersama ibu.”
“Waktu indah itu akan datang.”
“Kapan, Bu?”
“Itu hak Tuhan, Nak. Ibu juga tidak tahu.”
Lama sekali aku berbincang dengan ibu, di senja itu. Banyak sekali ibu memberikan nasihat agar aku bersabar. Sabar menghadapi kehidupan. Sabar dalam urusan rumah tangga. Tabah dalam hal pekerjaan. Jangan terbawa emosi. Bahkan ibu juga tidak suka kalau aku suka marah kepada anak.
Benar memang. Kemarin malam aku marah besar kepada si bungsu. Persoalannya karena ia tidak pamit pergi main bersama temannya. Malam itu seiisi rumah panik. Riuh, karena si bungsu tidak kunjung ditemukan. Meski pada akhirnya kembali, namun aku marah besar dengan perilaku anakku itu yang tidak pamit mau bermain. Anakku sesenggukan. Menangis karena aku marahi.
Ibu tidak suka dengan caraku. Marah dengan luapan emosi juga tidak baik. Seharusnya anak diberi pengertian. Ia akan sadar jika diberi nasihat dengan cara yang halus.
Panjang lebar ibu berbicara denganku. Tak terasa azan maghrib menggema. Mega merah berarak di ufuk barat. Sambil melambaikan tangan, ibu pamit dan pergi. Singgasana yang berhiaskan intan permata berkelebat di antara mega-mega di ufuk. Meski aku rindu, meski aku ingin ibu selalu berkunjung, tapi ibu berkata bahwa ini adalah pertemuan terakhir kita. Tanpa terasa air mataku kembali menggenang. Ingin rasanya aku ikut ibu. Ke alam sana. Di tempat tanpa hiruk-pikuk kepalsuan hidup.
“Ibu…” suaraku menggema. Memantul dari dinding rumahku. Dari pohon nyamplung yang tumbuh besar di belakang rumah. Dari ranting-ranting pohon asam yang rindang di awal musim kemarau. Senyum ibu masih lekat di cakrawala.
Madura, 07/09/2020.
