Wajah Madura dalam Karya Muna

“Tidakkah kauperhatikan bagaimana sesungguhnya dia seperti ulat? Oh, tentu bukan ulat tanduk hijau berhias garis putih-hitam yang menggemaskan dan sering kauakrabi di tegal itu. Bukan! Dialah ulat yang merayapi dahan-dahan kecil sepertimu. Setiap dahanmu menyumbal tunas-tunas baru, dia datang memamahnya hingga lumat, dan kau menjelma dahan gundul tak berdaya, diam kaku menunggu musim kembali tiba.”

Di sini, Muna sangat jelas memberi gambaran mengenai wajah sosial-budaya masyarakat Madura dalam kehidupan sehari-hari. Ada interaksi sosial yang justru menguntungkan pihak yang stratifikasi sosialnya lebih tinggi: memeras kaum lemah dan masyarakat yang secara ekonomi ada di bawah —malah dipaksa tidak berdaya. Selain hanya menunggu, menunggu, dan mengamini nasib buruknya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Inilah potret kehidupan masyarakat Madura di era sekarang. Haji Sappak, seorang juragan tembakau, di awal musim memberi modal pada petani tembakau tanpa bunga sepersen pun. Tentu dengan syarat saat musim panen tiba, para petani harus menjual hasil penennya pada Haji Sappak.

Sebagai seorang juragan tembakau sekaligus tokoh agama yang setiap tahun menunaikan ibadah haji dan umrah, Haji Sappak memposisikan diri dalam kehidupan masyarakat sebagai tokoh sentral. Disegani, ditokohkan, dan tentu dihormati oleh masyarakat.

Madura, sekali lagi dalam kacamata orang luar, merupakan wilayah yang tingkat keberagamaannya tinggi. Sehingga agama tidak akan luput dalam kehidupan sosial masyarakat Madura. Emosi keberagamaan yang tinggi inilah yang mempengaruhi pola relasi dan interaksi sosial masyarakat dalam membangun solidaritas kelompok begitu kuat. Tak heran jika cita-cita dan keinginan masyarakat Madura adalah menginjakkan kaki di tanah suci, Mekkah.

Agama sudah meresap dalam pundi-pundi kehidupan masyarakat. Meskipun dalam kasus lain, pengetahuan terhadap agama tidak diimbangi dengan keinginan menampilkan pola keagamaan dalam kehidupan sosial. Hal ini bisa kita lihat dalam cerpen Ulat Daun Emas, di mana Haji Sappak terjebak pada egoisme agama dan melupakan kewajibannya dalam solidaritas masyarakat sebagai individu atau sebagai pemangku sistem kapital. Haji Sappak tidak melihat pengorbanan dan perjuangan petani tembakau untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Ketakberdayaan di wahajmu semakin lekat, sepasrah daun dimamah ulat.”

Ini adalah gambaran di mana petani tembakau mengalami masa-masa sulit dan perih dalam menjalani profesi sebagai petani di Madura. Setidaknya petani bukan lagi profesi yang menyenangkan dan menguntungkan, melanjutkan tradisi leluhur dan merawat tanah sangkol dalam masayarakat Madura. Bertani memiliki makna sempit ketika berhubungan dengan modal dan kapitalisme. Menjadi petani berarti bertaruh nasib dan lekat dengan kehidupan yang menuntut untuk sabar dan tabah.

2/

Seorang sosiolog besar, Karl Marx misalnya, menulis bahwa agama harus dijelaskan dalam konteks kondisi sosial masyarakat dan ekonomi. Agama dihadirkan dalam kehidupan bumi. Agama tidak melulu menyoroti kehidupan ketauhidan atau teologi, yang justru memberikan stigma antara pahala-dosa dan surga-neraka.

Dalam kajian cerpen Muna Masyari, bisa dilihat bahwa konsep agama sudah jauh dari makna dan fungsinya. Haji Sappak mereduksi arti agama hanya melulu dalam kegiatan atau ritual agama saja. Belum menyentuh pada nilai-nilai agama itu sendiri. Penindasan terhadap kaum lemah masih dilanggengkan.

Tinggalkan Balasan