Dalam pergerakan jaringan Sunan Ampel itu, kita tidak bisa meremehkan jaringan kekerabatan yang ia bangun. Seperti, jaringan kekerabatan melalui Nyai Ageng Maloko dengan penguasa Lasem. Ini membuka ruang dakwah Sunan Bonang di daerah Lasem sekitarnya. Jadi, jaringan kekerabatan yang dibangun oleh Sunan Ampel dengan para bangsawan Jawa, pada gilirannya memberi privilese tersendiri kepada santri-santri Ampel dalam menyebarkan Islam.
Kekuatan jejaring Ampel yang besar itu didukung dengan strategi dakwah yang baik. Dakwah Wali Songo yang dilakukan dengan memanfaatkan, bukan menghantam, budaya ternyata mudah diterima oleh masyarakat Jawa. Seperti upaya Sunan Kalijaga yang memanfaatkan wayang sebagai media dakwah, itu ampuh untuk mengenalkan Islam dalam masyarakat akar rumput.

Dakwah melalui pengembangan budaya terbilang menjadi gerakan khas para wali. Tidak mengherankan, sebab para wali memiliki hubungan jaringan ulama, sehingga wajar jika ada keselarasan gerakan dakwah di antara mereka. Dalam jejaring Ampel ini dapat digambarkan; Sunan Bonang berdakwah melalui jalur budaya. Muridnya, Sunan Kalijaga, juga memanfaatkan budaya sebagai media dakwah. Dan, gaya dakwah ini juga diteruskan oleh Sunan Muria yang merupakan anak Sunan Kalijaga.
Jejaring Giri dan Penyebaran Islam hingga ke Luar Jawa
Salah satu murid Sunan Ampel, yaitu Sunan Giri, mendirikan pesantren di Giri. Pesantren ini juga menjadi tempat pendidikan kader-kader pendakwah Islam jaringan Wali Songo. Jika basis jaringan Wali Songo di tanah Jawa umumnya berasal dari Pesantren Ampel, maka penyebaran Islam di luar tanah Jawa banyak dilakukan oleh santri dari Pesantren Giri.
Pandangan itu sejalan dengan Sunyoto, dalam Atlas Wali Songo, yang menjelaskan bahwa santri-santri Sunan Giri berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Hal ini menjadikan dakwah jejaring Sunan Giri mampu mencapai daerah Banjar, Martapura, Pasir, dan Kutai di Kalimantan, Buton dan Gowa di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara, hingga Kepulauan Maluku.
Salah seorang santri di Pesantren Giri yang menyebarkan Islam di luar tanah Jawa adalah Datuk Ri Bandang. Ia merupakan ulama asal Minangkabau yang belajar di Giri. Dalam buku Jaringan Ulama dan Islamisasi Indonesia Timur, karya Hilful Fudhul Sirajuddin Jaffar, kita dapat membaca peran Datuk Ri Bandang dalam menyebarkan Islam di Makassar (Sulawesi), Bima (Nusa Tenggara), dan Kutai (Kalimantan). Salah satu jasa besar santri Giri ini adalah mengislamkan Sultan Alauddin yang merupakan Raja Gowa.
Tidak hanya Datuk Ri Bandang, Hilful juga menjelaskan kalau Sunan Prapen, yang merupakan cucu Sunan Giri, adalah pemimpin para pendakwah dari Jawa yang menyebarkan Islam di Sumbawa dan Bima. Dijelaskan bahwa, ia mampu mengambil hati orang-orang, sehingga pengikutnya banyak yang berasal dari daerah tersebut.
Ada lagi santri Pesantren Giri, yaitu Zainal Abidin yang merupakan Sultan Ternate. Ia merupakan penguasa Muslim kedua di Ternate–pertama Kolano Marhum yang adalah ayahnya. Sultan Zainal Abidin menjadi penguasa yang sangat besar jasanya dalam meletakkan pondasi Islam di Kesultanan Ternate.
