Bagi sebagian orang, tantangan War Takjil tidak hanya terjadi di bazar Ramadan, tapi juga di dunia digital. Setiap Ramadan, berbagai aplikasi makanan online menawarkan diskon menggoda. Kadang harga satu porsi nasi padang bisa turun sampai setengahnya. Wajar kalau orang-orang tiba-tiba berubah jadi sniper promo: siap menembak pesanan sebelum stok habis.
Tapi seperti perang lainnya, War Takjil juga punya korban. Ada yang batal dapat promo karena server down. Ada yang kecewa karena takjil idaman sudah ludes sebelum dia sempat antre. Dan tentu saja, ada yang akhirnya kelebihan stok makanan di meja makan, lalu hanya bisa menyesali diri sambil menatap lemper yang tak tersentuh.

Berakhir di Tempat Sampah
Di balik keseruan War Takjil, ada satu ironi yang sulit dihindari: pemborosan.
Saya pernah melihat seorang ibu membeli plastik besar berisi aneka gorengan, es campur, dan bubur sumsum. Tapi setelah berbuka, ternyata hanya separuh yang disentuh. Sisanya dibiarkan begitu saja di meja. Es campur mencair, gorengan melempem, dan akhirnya, semua berakhir di tempat sampah.
Fenomena ini bukan hal langka. Banyak orang, entah karena lapar mata atau terjebak dalam euforia Ramadan, membeli makanan lebih banyak dari yang bisa mereka makan. Kita sering lupa, bahwa berbuka puasa bukan soal balas dendam terhadap rasa lapar, melainkan soal mensyukuri rezeki yang cukup.
