Di bawah langit biru cerah yang membentang di atas Desa Krejengan, Probolinggo, seorang anak muda bernama Mamad duduk di tepi sawah sambil menghirup dalam-dalam aroma khas bunga melati. Desa ini terkenal dengan melati dan hasil pertaniannya, yang menjadi ciri khasnya sejak dulu. Mamad, anak seorang petani melati, sering mendengar cerita dari kakeknya tentang bagaimana bunga-bunga itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.
“Melati ini bukan sekadar bunga,” ujar kakek Mamad suatu sore. “Ia melambangkan kerja keras, ketulusan, dan kebersamaan orang-orang di desa ini.”

Namun, Mamad tidak pernah benar-benar memahami apa yang dimaksud oleh kakeknya. Baginya, melati hanya sekadar tanaman yang tumbuh di halaman rumah dan ladang. Hingga suatu hari, desa mereka menghadapi tantangan besar. Harga melati anjlok di pasar, membuat banyak petani mulai meninggalkan ladang mereka untuk mencari pekerjaan lain di kota.
Mamad merasa prihatin melihat ayahnya yang tetap bertahan menanam melati, meski penghasilannya nyaris tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia pun memutuskan untuk bertanya kepada kakeknya, yang selalu bijak dalam memberi nasihat.
“Kek, kenapa kita harus terus menanam melati kalau itu tidak lagi menguntungkan?” tanya Mamad suatu malam.
