Ketika memasuki Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 19.30, saya langsung berhadapan dengan tubuh-tubuh yang berdiri, bergerak, lalu berhenti seperti sedang menerima perintah dari sesuatu yang tidak tampak. Saya belum tahu apa yang sedang mereka bawa. Tetapi keraguan itu perlahan menemukan arahnya ketika lakon Warisan Bunga Hitam dimulai. Inilah kolaborasi LAB Teater Ciputat dan CROSSING TEXT 2.0, disutradarai Yasuhito Yano dan Sir Ilham Jambak, dengan dramaturgi Rosida Erowati Irsyad.
Ya, sejak mula, saya seperti diajak memperhatikan tubuh sebelum memahami cerita. Tubuh-tubuh itu berdiri, bergerak, menunggu, mengikuti perintah. Ada sesuatu yang tertib di sana, tetapi sekaligus membuat saya curiga. Sebab tubuh yang terlalu tertib biasanya menyimpan sesuatu: mungkin sedang menunggu aba-aba, mungkin menunggu kesempatan untuk memberontak, atau jangan-jangan sudah lupa bagaimana bergerak tanpa perintah.

Dari tubuh-tubuh yang disiplin itu, pertunjukan bergerak menuju mimpi, paranoia, Macbeth, kelelahan, ingatan personal, dan akhirnya kembali kepada tubuh yang disiplin. Perjalanan panjang itu seperti membawa kita pulang ke tempat semula, hanya saja tubuh yang kembali telah membawa suara, ketakutan, ingatan, dan mungkin rasa bersalah.
Aneh, di sela-sela pertunjukan yang sedang berlangsung,tiba-tiba saya teringat pada sebuah gerbang tua dalam cerpen sastrawan Jepang, Ryūnosuke Akutagawa: Rashōmon. Gerbang itu terasa akrab dengan apa yang sedang saya saksikan: sebuah ruang di antara masa lalu dan masa kini, antara orang hidup dan orang mati, antara alasan dan kesalahan, antara manusia yang menjadi korban keadaan dan manusia yang kemudian menggunakan keadaan itu untuk membenarkan tindakannya sendiri.
Di bawah gerbang Rashōmon, seorang pelayan yang kehilangan pekerjaan bertemu dengan perempuan tua yang mencabuti rambut mayat. Perempuan itu mempunyai alasan: rambut tersebut akan dijual untuk bertahan hidup. Sang pelayan mendengarkan alasan itu, lalu menemukan alasan bagi dirinya sendiri: jika perempuan tua itu boleh melakukan kejahatan demi bertahan hidup, mengapa ia tidak?
Saya teringat gerbang itu bukan karena ingin menyamakan Rashōmon dengan Warisan Bunga Hitam. Jauh sekali. Saya hanya merasa seperti berdiri di sebuah gerbang lain: di satu sisinya sejarah, di sisi lain ingatan, sementara di tengah-tengahnya manusia yang mungkin tidak sadar bahwa tubuhnya membawa sesuatu dari masa lalu yang diwariskan.
Apa sesungguhnya yang diwariskan? Apakah perang hanya mewariskan kematian? Apakah trauma berhenti ketika perang selesai? Ataukah sesuatu dari perang masih tinggal dalam tubuh orang-orang yang bahkan tidak pernah mengalami perang itu sendiri?
Belum selesai pertanyaan-pertanyaan itu berjejal di kepala, pertunjukan segera membawa tubuh-tubuh tersebut ke wilayah mimpi dan paranoia. Suasana yang semula tertib berubah ganjil: Macbeth, bantal, ruang privat, percakapan, dan suara-suara bercampur, seolah batas antara dunia luar dan dunia dalam ikut mengabur, karena mimpi memang tidak terlalu sopan kepada logika: orang mati bisa tiba-tiba hadir, kamar tidur menjelma medan perang, dan bantal yang mestinya menenangkan justru membuat kita waspada.
Di titik ini saya mulai merasa bahwa “warisan” dalam judul pertunjukan tidak selalu berarti sesuatu yang sengaja diberikan. Ada warisan yang kita terima dengan sadar: nama, tanah, rumah, agama, bahasa, kebiasaan, cerita keluarga. Tetapi ada pula yang datang tanpa diminta: trauma, ketakutan, rasa bersalah, bahkan cara memandang orang lain.
Warisan jenis kedua inilah yang membuat saya gelisah. Rumah yang diwariskan masih bisa dijual; buku bisa disimpan di rak; nama bahkan bisa diubah. Tetapi bagaimana jika yang diwariskan adalah ketakutan? Kepada siapa kita mengembalikannya?
Pertanyaan itu membawa saya kepada Macbeth, dan kepada Shoichi Ayada, aktor Jepang yang tubuhnya ditempatkan dalam persoalan yang menarik: ia menjadi Macbeth.
Shoichi tidak datang ke panggung sebagai Macbeth yang utuh. Ia datang dari Jepang, membawa tubuh, bahasa, pengalaman kebudayaan, dan sejarahnya sendiri, lalu ditempatkan ke dalam tubuh seorang panglima Skotlandia dalam The Tragedy of Macbeth, karya William Shakespeare.
Dalam lakon Shakespeare itu, Macbeth pada mulanya adalah panglima perang yang gagah dan setia kepada Raja Duncan. Hidupnya berubah setelah bertemu tiga penyihir yang meramalkan bahwa kelak ia akan menjadi Raja Skotlandia. Ketika sebagian ramalan menjadi kenyataan, ambisinya tumbuh. Macbeth membunuh Duncan dan merebut takhta. Namun kekuasaan tidak memberinya ketenangan. Ia justru semakin takut kehilangan kedudukannya, mencurigai orang-orang di sekitarnya, dan kembali menggunakan kekerasan hingga pahlawan perang itu berubah menjadi tiran.
Yang menarik dari Macbeth bukan hanya seorang lelaki yang ingin menjadi raja, melainkan proses perubahan manusia: bagaimana ambisi, ketakutan, kekuasaan, dan pembenaran perlahan menggeser seseorang dari tempatnya semula.
Kita memang sering menjadi sesuatu secara bertahap. Hari ini memberi alasan, besok membuat pengecualian, lusa mengulanginya. Setelah cukup lama, kita mungkin lupa bahwa dahulu kita pernah merasa bersalah ketika melakukan hal yang sama. Mungkin karena itu Macbeth terasa tidak terlalu jauh dari persoalan sejarah.
Dalam Warisan Bunga Hitam, Macbeth tidak hanya menjadi tokoh Shakespeare. Para aktor dan tiga penyihir seperti mempertanyakan kembali siapa Macbeth yang berada di hadapan mereka. Macbeth dalam lakon adalah orang Skotlandia, sementara Macbeth yang berdiri di panggung adalah orang Jepang. Pertanyaannya pun bergeser: jika tubuh, kebudayaan, dan sejarahnya berbeda, apakah nasibnya akan tetap sama? Apakah Macbeth ditakdirkan menjadi pembunuh, atau ia hanya sebuah kemungkinan yang dapat terjadi pada siapa saja?
Di satu sisi ada Macbeth dengan ambisinya. Di sisi lain ada Jepang dengan sejarah perangnya sendiri. Di antaranya ada Indonesia, tempat pertunjukan berlangsung, dengan sejarah kekerasan dan ingatannya sendiri.
Saya tidak tahu apakah pertunjukan memang bermaksud membawa kita sejauh itu. Barangkali tidak; barangkali saya saja yang terlalu suka berjalan-jalan ke tempat yang tidak disediakan tiket. Tetapi teater memang punya kelemahan semacam itu: memberi satu adegan, lalu membiarkan penonton membawa pulang sepuluh kemungkinan. Apalagi ketika tubuh Shoichi bergerak seperti berada di antara sadar dan tidak sadar. Siapa sebenarnya yang sedang bergerak; Shoichi, Macbeth, atau sesuatu yang lain?
Saya membayangkan, andaikata tubuh Shoichi tidak berhenti sebagai tubuh Macbeth, melainkan menjadi tubuh yang dirasuki sejarah. Bukan kesurupan dalam pengertian mistik, tetapi tubuh yang tiba-tiba memanggul sesuatu yang tidak dialaminya sendiri.
Bukankah sejarah sering bekerja demikian? Orang yang lahir puluhan tahun setelah sebuah tragedi dapat mewarisi ketakutan orang tuanya. Anak cucu seseorang dapat membawa cerita tentang perang yang tidak pernah mereka saksikan. Sebuah bangsa dapat terus memperdebatkan peristiwa yang terjadi sebelum sebagian besar warganya lahir.
Dan pada saat itulah imajinasi saya mulai sedikit nakal: bagaimana jika tubuh Shoichi yang seperti kesurupan itu bertemu dengan tubuh-tubuh dari ingatan Indonesia? Bukan untuk menggabungkan sejarah Indonesia dan Jepang secara serampangan, melainkan untuk membuat keduanya saling menatap.
Bagaimana jika Macbeth bertemu dengan hantu-hantu sejarah Indonesia?
Saya tahu, ini sudah mulai terlalu jauh. Tetapi bukankah teater memberi kita izin untuk sesekali berjalan lebih jauh dari yang direncanakan? Apalagi judulnya Warisan Bunga Hitam. Bunga tumbuh dari tanah; kita hanya melihat mekarnya, sementara sebagian besar kehidupannya berlangsung di bawah permukaan. Barangkali sejarah juga begitu: yang tampak hanyalah peristiwa, sementara akar-akarnya terus menjalar di bawah kesadaran.
Dari tubuh Shoichi, saya kemudian memasuki tubuh Yuko Kawabuchi. Yoko membawa saya kepada sesuatu yang lebih dekat dan lebih sunyi: keluarga, agama, kematian, dan leluhur. Ia memperkenalkan dirinya sebagai perempuan yang tumbuh di Kota Uozu, Prefektur Toyama, di pesisir Laut Jepang. Kedua orang tuanya penganut Buddha. Setelah ibunya meninggal, setiap bulan pada tanggal peringatan kematian sang ibu, Yuko mengunjungi sebuah kuil Buddha kecil untuk memberikan penghormatan. Setiap tahun ia juga mendatangi kuil yang lebih besar. Ketika pulang ke rumah keluarga, ia berdoa di depan butsudan, altar Buddha tradisional yang banyak ditemukan di rumah-rumah Jepang.
Ada sesuatu yang menarik dari cara Yuko bercerita tentang doa. Ia tidak menggambarkan agama sebagai sesuatu yang ramai. Tidak ada perdebatan teologis atau usaha menjelaskan siapa yang paling benar. Ia hanya membuka butsudan, menyalakan lilin, mempersembahkan dupa, membunyikan orin, lalu menunggu suara lonceng kecil itu menghilang. Setelahnya, ia merapatkan kedua tangan dan memejamkan mata. Selama berdoa, katanya, ia tidak memikirkan apa pun.
Saya membayangkan suara orin itu. Ting. Kemudian diam.
Mungkin dalam diam itulah Yuko bertemu dengan ibunya, kakek, nenek, dan para leluhur. Dalam naskah, doa baginya bukan hanya ungkapan syukur kepada Buddha, tetapi juga kepada mereka yang telah meninggal dan diyakininya tetap mengawasi serta melindunginya.
Bukankah ini juga cara lain memahami warisan?
Orang yang meninggal meninggalkan sesuatu kepada yang hidup. Bukan selalu kata-kata. Kadang hanya kebiasaan, sebuah altar, tanggal kematian yang terus diingat, bunyi lonceng, cara menangkupkan tangan, atau perasaan bahwa seseorang yang telah pergi belum sepenuhnya meninggalkan kita.
Menariknya, setelah Yuko berbicara tentang leluhur, naskah membawa kita kepada Shoichi. Ia juga bersinggungan dengan agama dan keluarga, meskipun melalui pengalaman berbeda. Ia pernah mengenal lingkungan Protestan dan Katolik, sementara kakek dan neneknya beragama Kristen. Ia juga sedang belajar Alkitab.
Dua aktor Jepang membawa pengalaman religius yang berbeda ke dalam pertunjukan tentang perang dan warisan sejarah: Yuko dengan Buddha, butsudan, ibu, dan leluhur; Shoichi dengan pengalaman Protestan, Katolik, keluarga, dan pembelajaran Alkitab. Keduanya bertemu di panggung Indonesia, negeri tempat agama bukan perkara kecil. Karena itu dalam perjalanan pulang saya sempat bertanya: ke mana perjumpaan ini akan dibawa; menjadi ruang dialog Indonesia-Jepang atau justru sebuah keheningan?
Di sisi lain, para aktor Indonesia membawa agama dan pengalaman mereka masing-masing. Andhini Puteri Lestari, misalnya, datang dengan riwayat yang cukup berliku. Rizki Ridho hadir dengan pengalaman keislaman yang lebih ketat, demikian pula Sarah, yang membawa pengalaman keberagamaannya sendiri.
Sementara Raymond Y. Patty, atau Ray, membawa persoalan yang lebih berlapis. Ia berdarah Ambon dari pihak ayah dan Jawa dari pihak ibu, tumbuh sebagai orang Ambon di Jakarta, serta mengalami stereotip dan rasisme. Keluarga pihak ayah telah memeluk Protestan selama sekitar sepuluh generasi, sementara kakeknya pernah menjadi anggota KNIL sebelum bergabung dengan TNI setelah kegagalan RMS. Karena itu, bagi Ray, pertanyaan agama segera bersinggungan dengan pertanyaan lain: siapa yang berhak disebut Indonesia, dan apa sebenarnya yang dimaksud dengan “asli Indonesia”?
Mungkin itulah sebabnya agama dalam pertunjukan ini bukan semata-mata soal siapa beragama apa, melainkan bagaimana seseorang mencari tempat untuk menenangkan tubuhnya. Yuko menemukannya di depan butsudan. Andhini melalui perjalanan spiritualnya. Ridho melalui kebiasaan kecil yang ia ajarkan kepada anak-anak TK: mengucapkan salam, meminta permisi, menunduk, bersalaman, duduk rapi, dan berdoa.
Agama, dengan demikian, hadir sebagai gerak tubuh. Kita sering mengira agama berada di kepala. Padahal sebagian agama mungkin tinggal lebih lama di tubuh. Kita boleh lupa ayatnya, tetapi tangan masih otomatis terangkat; lupa kapan pertama kali belajar membungkuk, tetapi tubuh tahu kapan harus melakukannya. Bahkan ketika lupa siapa yang mengajarkannya, gerakan itu tetap tinggal.
Dari gerakan-gerakan kecil itu, pertunjukan perlahan masuk ke wilayah mimpi dan paranoia. Tubuh-tubuh yang semula teratur mulai kehilangan kepastian; ruang pribadi berubah menjadi ruang perebutan. Tempat tidur yang mestinya menjadi tempat paling aman justru menjadi arena saling berebut. Saya membayangkannya sebagai sebuah rumah kecil, ruang paling privat yang seharusnya memberi perlindungan, tetapi di panggung justru berubah menjadi ruang kecemasan.
Dari ruang kecemasan itulah Macbeth masuk, bukan sebagai cerita yang berdiri sendiri, melainkan seperti mimpi buruk yang menyusup ke dalam pertunjukan. Shoichi, Yuko, Andhini, Sarah, Raymond, dan Ridho bergantian membacakan monolog Macbeth tentang belati: “Apakah ini belati? Saya melihatnya tepat di depan saya.” Kalimat itu berpindah dari satu suara ke suara lain, sehingga Macbeth tidak lagi memiliki satu tubuh; ia seperti terpecah ke dalam tubuh banyak orang.
Mengapa Macbeth harus dibagi-bagi? Mengapa kalimat seorang tokoh Skotlandia abad ke-17 berpindah dari tubuh aktor Jepang ke tubuh aktor-aktor Indonesia? Barangkali karena yang dicari bukan Macbeth sebagai individu, melainkan Macbeth sebagai kemungkinan manusia: seseorang yang melihat belati, entah nyata atau bayangan, lalu bertindak seolah-olah apa yang dilihatnya benar-benar ada.
Di situlah Macbeth menjadi menyeramkan. Bukan semata karena ada penyihir atau hantu, melainkan karena manusia dapat menciptakan kenyataan dari ketakutannya sendiri. Kita takut sesuatu akan terjadi, bertindak karena ketakutan itu, lalu akibatnya membuat ketakutan semula tampak seperti ramalan yang benar. “Tuh, benar kan, sejak awal saya sudah menduga.”
Namun Macbeth dalam The Tragedy of Macbeth, tidak datang sendirian. Ia datang bersama tiga penyihir. Dan imajinasi saya kembali tergoda: kalau tiga penyihir Shakespeare bisa menanam ramalan di kepala Macbeth, apa yang terjadi ketika tubuh Macbeth berhadapan dengan hantu-hantu sejarah Indonesia?
Pertanyaan itu mungkin terlalu jauh. Saya simpan saja. Sebab pertunjukan kemudian membawa kita kepada wilayah yang lebih berat: kelelahan tubuh, perang, rasa malu, dan pertanyaan sederhana yang ternyata tidak sederhana: apa artinya menjadi orang Indonesia?
Di sini pertunjukan mulai menggeser pertanyaannya. Semula kita berhadapan dengan tubuh yang dikendalikan, lalu tubuh yang mencari ketenangan melalui agama, kemudian tubuh yang bermimpi dan paranoid. Kini tubuh itu menjadi tubuh yang lelah.
Kelelahan menarik karena tubuh yang lelah biasanya tidak lagi pandai berbohong. Ketika masih kuat, manusia bisa berdiri tegak, tersenyum, memberi hormat, bahkan mengatakan semuanya baik-baik saja. Ketika tenaga habis, tubuh mulai membocorkan sesuatu yang selama ini disimpan mulut.
Barangkali sejarah juga begitu. Kita bisa merapikannya dalam buku pelajaran, mengabadikannya dalam monumen, menyusunnya menjadi upacara. Tetapi tubuh yang pernah mengalami kekerasan menyimpan sejarah dengan cara yang jauh lebih sulit dirapikan: dalam ketegangan otot, rasa takut, mimpi, diam, atau tubuh yang tiba-tiba terjaga oleh suara yang sebenarnya tidak berbahaya.
Pertunjukan Warisan Bunga Hitam kemudian mempertemukan kelelahan tubuh dengan suara-suara tentang perang, tanggung jawab, identitas, dan rasa malu menjadi orang Indonesia. Saya mulai merasa bahwa pertunjukan tidak lagi hanya berbicara tentang Jepang dan Indonesia sebagai dua negara dengan hubungan sejarah yang rumit, tetapi tentang bagaimana seseorang hidup setelah sejarah berlalu.
Perang memiliki dua waktu: ketika berlangsung dan ketika telah selesai. Tetapi tubuh kadang tidak tahu bahwa perang sudah berakhir. Ia masih membawanya dalam ketakutan, mimpi, dan diam. Karena itu warisan dalam pertunjukan ini terasa berat. Yang diwariskan bukan hanya cerita tentang menang-kalah, bendera, atau nama pahlawan, tetapi juga rasa malu.
Rasa malu bisa diwariskan dari keluarga, bangsa, bahkan sejarah sebuah negara. Ketika ia muncul setelah tubuh-tubuh mengalami kelelahan, pertanyaan yang lebih pribadi terbuka: saya ini siapa, berasal dari mana, dan apa yang dilakukan orang-orang sebelum saya sehingga harus saya bawa?
Saya tidak ingin buru-buru membawanya ke buku sejarah. Saya masih ingin tinggal di panggung, pada tubuh yang akhirnya berbaring, bukan sebagai tentara, pahlawan, atau korban, melainkan sekadar manusia yang lelah.
Mungkin dari tubuh semacam itulah sejarah bisa dibicarakan dengan lebih manusiawi: bukan sebagai deretan tanggal, pidato, atau slogan, melainkan sesuatu yang pernah terjadi kepada tubuh manusia.
Lalu saya bertanya, jika tubuh telah lelah, mimpi mengacaukan batas kenyataan dan ingatan, Macbeth membawa kita kepada ambisi dan kekuasaan, sementara biografi para aktor membuka pintu agama dan keluarga, ke mana semua ini akan bermuara?
Jawabannya datang melalui sebuah lagu yang hampir semua orang Indonesia mengenalnya: Bagimu Negeri.
Lagu itu mula-mula tidak datang sebagai seruan. Ia keluar pelan-pelan dari suara aktor Jepang. Sebuah lagu yang bagi telinga orang Indonesia barangkali terlalu akrab, didengar sejak sekolah, dalam upacara, peringatan kemerdekaan, atau acara resmi yang membuat kita berdiri tegak meskipun pikiran sedang memikirkan hal lain.
Tetapi malam itu, ketika lagu tersebut keluar dari mulut seorang aktor Jepang, keakrabannya bergeser. Saya seperti mendengarnya untuk pertama kali. Ada jarak antara kata-kata dan tubuh yang mengucapkannya. Lagu itu memang milik bangsa Indonesia, tetapi ketika dinyanyikan oleh orang Jepang, ia seperti dikembalikan kepada kita dalam bentuk pertanyaan: apa arti “negeri” bagi seseorang yang bukan berasal dari negeri itu? Dan lebih jauh lagi, apa arti menjadi Indonesia?
Menarik. Ya, ketika seorang aktor Jepang menggumamkan Bagimu Negeri, pertanyaan itu seperti dikembalikan kepada penonton Indonesia. Agak lucu juga. Kadang-kadang kita baru mengenali rumah sendiri setelah mendengar orang lain menyebut alamatnya.
Ketika aktor Indonesia kemudian mempertanyakan lagu itu, suasananya menjadi semakin menarik. Lagu yang biasanya dinyanyikan dengan dada tegak kini hadir bersama keraguan. Setelah tubuh yang diperintah, kelelahan, mimpi dan paranoia, Macbeth, agama, serta biografi personal, nasionalisme tidak lagi tampil sebagai sesuatu yang sederhana, melainkan sebagai pertanyaan.
Apakah mencintai negeri berarti harus mencintai seluruh sejarahnya? Kalau sejarahnya memiliki luka, apakah kita juga harus mencintai lukanya? Kalau leluhur pernah melakukan kesalahan, apakah kesalahan itu menjadi bagian dari identitas kita? Dan kalau kita malu terhadap sesuatu yang dilakukan bangsa kita pada masa lalu, apakah rasa malu itu juga bentuk cinta?
Saya tidak tahu. Mereka menyanyikan Bagimu Negeri bersama-sama dengan lirih. Mungkin justru karena lirih itulah lagu tersebut terasa lebih dekat: negeri tidak lagi terdengar sebagai sesuatu yang berada jauh di atas kepala, tetapi sesuatu yang harus kita bicarakan dari jarak sangat dekat, seperti keluarga, agama, orang mati yang masih kita doakan, atau sejarah yang tak pernah benar-benar selesai.
Meski setelah semua itu saya masih merasa perlu kembali kepada satu hal yang sejak awal mengganggu pikiran saya: agama. Bukan sebagai keberatan, apalagi vonis terhadap pertunjukan, melainkan sebagai kemungkinan yang terlalu nakal untuk saya simpan sendiri.
Saya masih memikirkan ketika para aktor memperkenalkan diri dan berbicara tentang keyakinan masing-masing. Yuko dengan Buddha dan leluhurnya. Andhini dengan perjalanan spiritualnya. Shoichi dengan pengalaman religius keluarganya. Para aktor Indonesia dengan latar mereka masing-masing.
Untuk beberapa saat, panggung seperti menjadi ruang kecil tempat berbagai keyakinan duduk berdampingan. Apa yang terjadi ketika tubuh-tubuh dengan warisan keyakinan berbeda berada dalam ruang yang sama? Apakah mereka saling mengubah, saling mencurigai, saling menyembuhkan, atau justru tidak terjadi apa-apa?
Bukankah, dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang berbeda agama sering hidup berdampingan tanpa harus setiap hari mengadakan seminar tentang pluralism? Tetangga sebelah mungkin sedang berdoa sementara kita membuat kopi; teman pergi ke gereja, kita ke masjid, lalu sore harinya tetap bertemu membicarakan harga cabai atau pertandingan sepak bola. Kehidupan kadang lebih sederhana daripada teori pluralisme. Mungkin toleransi memang tidak selalu perlu diucapkan; cukup dijalani.
Namun pertunjukan sudah membuka pintu itu, dan saya ingin mengintip sedikit lebih jauh. Apa arti hidup bersama ketika masing-masing membawa leluhur, Tuhan, pengalaman, dan luka yang berbeda?
Yuko membawa leluhurnya, Andhini membawa perjalanan spiritualnya, Ridho membawa doa dan pengalaman bersama anak-anak didiknya, Sarah membawa ke-Tionghoaannya, Raymond dengan ke-Ambonannya, sementara Shoichi membawa sejarah keluarganya. Mereka berdiri di panggung Indonesia, membawa pengalaman masing-masing ke dalam ruang yang sama.
Di sana saya kembali teringat pada Rashōmon. Bukan gerbangnya kali ini, melainkan gagasan sederhananya: setiap orang membawa versinya sendiri tentang dunia, dan versi itu lahir dari tubuh, ingatan, pengalaman, bahkan sejarah yang tidak pernah benar-benar sama. Barangkali karena itu pula, apa yang saya tangkap dari panggung malam itu hanyalah salah satu kemungkinan dari sekian banyak kemungkinan yang ditawarkan pertunjukan.
Dan mungkin yang diwariskan sejarah bukan hanya peristiwa, melainkan juga cara kita mengingat dan menceritakan peristiwa itu. Yang satu mewariskan luka, yang lain mewariskan rasa malu; yang satu menyimpan doa di depan butsudan, yang lain menyimpan lagu di dada; yang satu mengingat perang sebagai sejarah, yang lain mungkin mengalaminya sebagai sesuatu yang masih terjaga di dalam tubuh. Pada akhirnya, setiap orang datang membawa ingatannya sendiri, lalu pulang dengan membawa ingatan yang sedikit berubah.
Karena itu saya tidak ingin tergesa-gesa mengatakan bahwa pertunjukan ini “kurang” atau “gagal” mengembangkan persoalan agama, nasionalisme, tubuh, kekuasaan, maupun relasi antara individu dan negara yang berkelindan di dalamnya. Rasanya kata-kata semacam itu terlalu cepat menutup pintu yang justru sedang dibukanya. Saya lebih suka mengatakan: beberapa pintu telah terbuka, dan saya masih ingin mengintip ke baliknya. Barangkali ada ruang-ruang yang sengaja dibiarkan menjadi pekerjaan penonton. Barangkali pula ada beberapa kemungkinan yang, jika suatu hari dibuka lebih jauh, akan membuat percakapan tentang agama, sejarah, dan warisan itu menjadi semakin dalam.
Tentu saja, ini mungkin hanya keinginan seorang penonton yang terlalu betah duduk setelah lampu panggung padam, kemudian diam-diam pulang dengan membawa pertanyaan yang jumlahnya lebih banyak daripada ketika datang.
Mungkin karena itu saya kembali kepada bunga hitam dalam judul pertunjukan. Kita hanya melihat bunganya, sementara akar-akarnya bekerja jauh di bawah tanah. Begitu pula warisan: yang tampak mungkin hanya tubuh yang berdiri, lagu yang dinyanyikan, doa yang dipanjatkan, atau sejarah yang diceritakan. Tetapi di bawahnya ada sesuatu yang lebih panjang: ingatan, rasa bersalah, ketakutan, keyakinan, dan cerita-cerita yang diwariskan dari satu tubuh kepada tubuh berikutnya.
Malam itu pertunjukan selesai. Tubuh-tubuh di panggung kembali diam, lampu padam, dan penonton pulang. Tetapi cerita itu rupanya belum selesai. Ia pindah tempat, dari panggung ke kepala, dari tubuh para pemain ke tubuh penonton, dari sejarah yang diceritakan kepada sejarah yang kembali dipertanyakan.
Dan mungkin memang di situlah teater bekerja paling jauh: ketika ia selesai di panggung, tetapi menolak selesai di dalam diri kita.
Jakarta, 17 Agustus 2026.
