“Warisan Bunga Hitam”, Rashōmon, dan Cerita yang Belum Selesai

Ketika memasuki Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 19.30, saya langsung berhadapan dengan tubuh-tubuh yang berdiri, bergerak, lalu berhenti seperti sedang menerima perintah dari sesuatu yang tidak tampak. Saya belum tahu apa yang sedang mereka bawa. Tetapi keraguan itu perlahan menemukan arahnya ketika lakon Warisan Bunga Hitam dimulai. Inilah kolaborasi LAB Teater Ciputat dan CROSSING TEXT 2.0, disutradarai Yasuhito Yano dan Sir Ilham Jambak, dengan dramaturgi Rosida Erowati Irsyad.

Ya, sejak mula, saya seperti diajak memperhatikan tubuh sebelum memahami cerita. Tubuh-tubuh itu berdiri, bergerak, menunggu, mengikuti perintah. Ada sesuatu yang tertib di sana, tetapi sekaligus membuat saya curiga. Sebab tubuh yang terlalu tertib biasanya menyimpan sesuatu: mungkin sedang menunggu aba-aba, mungkin menunggu kesempatan untuk memberontak, atau jangan-jangan sudah lupa bagaimana bergerak tanpa perintah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dari tubuh-tubuh yang disiplin itu, pertunjukan bergerak menuju mimpi, paranoia, Macbeth, kelelahan, ingatan personal, dan akhirnya kembali kepada tubuh yang disiplin. Perjalanan panjang itu seperti membawa kita pulang ke tempat semula, hanya saja tubuh yang kembali telah membawa suara, ketakutan, ingatan, dan mungkin rasa bersalah.

Aneh, di sela-sela pertunjukan yang sedang berlangsung,tiba-tiba saya teringat pada sebuah gerbang tua dalam cerpen sastrawan Jepang, Ryūnosuke Akutagawa: Rashōmon. Gerbang itu terasa akrab dengan apa yang sedang saya saksikan: sebuah ruang di antara masa lalu dan masa kini, antara orang hidup dan orang mati, antara alasan dan kesalahan, antara manusia yang menjadi korban keadaan dan manusia yang kemudian menggunakan keadaan itu untuk membenarkan tindakannya sendiri.

Di bawah gerbang Rashōmon, seorang pelayan yang kehilangan pekerjaan bertemu dengan perempuan tua yang mencabuti rambut mayat. Perempuan itu mempunyai alasan: rambut tersebut akan dijual untuk bertahan hidup. Sang pelayan mendengarkan alasan itu, lalu menemukan alasan bagi dirinya sendiri: jika perempuan tua itu boleh melakukan kejahatan demi bertahan hidup, mengapa ia tidak?

Saya teringat gerbang itu bukan karena ingin menyamakan Rashōmon dengan Warisan Bunga Hitam. Jauh sekali. Saya hanya merasa seperti berdiri di sebuah gerbang lain: di satu sisinya sejarah, di sisi lain ingatan, sementara di tengah-tengahnya manusia yang mungkin tidak sadar bahwa tubuhnya membawa sesuatu dari masa lalu yang diwariskan.

Apa sesungguhnya yang diwariskan? Apakah perang hanya mewariskan kematian? Apakah trauma berhenti ketika perang selesai? Ataukah sesuatu dari perang masih tinggal dalam tubuh orang-orang yang bahkan tidak pernah mengalami perang itu sendiri?

Belum selesai pertanyaan-pertanyaan itu berjejal di kepala, pertunjukan segera membawa tubuh-tubuh tersebut ke wilayah mimpi dan paranoia. Suasana yang semula tertib berubah ganjil: Macbeth, bantal, ruang privat, percakapan, dan suara-suara bercampur, seolah batas antara dunia luar dan dunia dalam ikut mengabur, karena mimpi memang tidak terlalu sopan kepada logika: orang mati bisa tiba-tiba hadir, kamar tidur menjelma medan perang, dan bantal yang mestinya menenangkan justru membuat kita waspada.

Di titik ini saya mulai merasa bahwa “warisan” dalam judul pertunjukan tidak selalu berarti sesuatu yang sengaja diberikan. Ada warisan yang kita terima dengan sadar: nama, tanah, rumah, agama, bahasa, kebiasaan, cerita keluarga. Tetapi ada pula yang datang tanpa diminta: trauma, ketakutan, rasa bersalah, bahkan cara memandang orang lain.

Warisan jenis kedua inilah yang membuat saya gelisah. Rumah yang diwariskan masih bisa dijual; buku bisa disimpan di rak; nama bahkan bisa diubah. Tetapi bagaimana jika yang diwariskan adalah ketakutan? Kepada siapa kita mengembalikannya?

Pertanyaan itu membawa saya kepada Macbeth, dan kepada Shoichi Ayada, aktor Jepang yang tubuhnya ditempatkan dalam persoalan yang menarik: ia menjadi Macbeth.

Shoichi tidak datang ke panggung sebagai Macbeth yang utuh. Ia datang dari Jepang, membawa tubuh, bahasa, pengalaman kebudayaan, dan sejarahnya sendiri, lalu ditempatkan ke dalam tubuh seorang panglima Skotlandia dalam The Tragedy of Macbeth, karya William Shakespeare.

Dalam lakon Shakespeare itu, Macbeth pada mulanya adalah panglima perang yang gagah dan setia kepada Raja Duncan. Hidupnya berubah setelah bertemu tiga penyihir yang meramalkan bahwa kelak ia akan menjadi Raja Skotlandia. Ketika sebagian ramalan menjadi kenyataan, ambisinya tumbuh. Macbeth membunuh Duncan dan merebut takhta. Namun kekuasaan tidak memberinya ketenangan. Ia justru semakin takut kehilangan kedudukannya, mencurigai orang-orang di sekitarnya, dan kembali menggunakan kekerasan hingga pahlawan perang itu berubah menjadi tiran.

Yang menarik dari Macbeth bukan hanya seorang lelaki yang ingin menjadi raja, melainkan proses perubahan manusia: bagaimana ambisi, ketakutan, kekuasaan, dan pembenaran perlahan menggeser seseorang dari tempatnya semula.

Kita memang sering menjadi sesuatu secara bertahap. Hari ini memberi alasan, besok membuat pengecualian, lusa mengulanginya. Setelah cukup lama, kita mungkin lupa bahwa dahulu kita pernah merasa bersalah ketika melakukan hal yang sama. Mungkin karena itu Macbeth terasa tidak terlalu jauh dari persoalan sejarah.

Dalam Warisan Bunga Hitam, Macbeth tidak hanya menjadi tokoh Shakespeare. Para aktor dan tiga penyihir seperti mempertanyakan kembali siapa Macbeth yang berada di hadapan mereka. Macbeth dalam lakon adalah orang Skotlandia, sementara Macbeth yang berdiri di panggung adalah orang Jepang. Pertanyaannya pun bergeser: jika tubuh, kebudayaan, dan sejarahnya berbeda, apakah nasibnya akan tetap sama? Apakah Macbeth ditakdirkan menjadi pembunuh, atau ia hanya sebuah kemungkinan yang dapat terjadi pada siapa saja?

Di satu sisi ada Macbeth dengan ambisinya. Di sisi lain ada Jepang dengan sejarah perangnya sendiri. Di antaranya ada Indonesia, tempat pertunjukan berlangsung, dengan sejarah kekerasan dan ingatannya sendiri.

Saya tidak tahu apakah pertunjukan memang bermaksud membawa kita sejauh itu. Barangkali tidak; barangkali saya saja yang terlalu suka berjalan-jalan ke tempat yang tidak disediakan tiket. Tetapi teater memang punya kelemahan semacam itu: memberi satu adegan, lalu membiarkan penonton membawa pulang sepuluh kemungkinan. Apalagi ketika tubuh Shoichi bergerak seperti berada di antara sadar dan tidak sadar. Siapa sebenarnya yang sedang bergerak; Shoichi, Macbeth, atau sesuatu yang lain?

Saya membayangkan, andaikata tubuh Shoichi tidak berhenti sebagai tubuh Macbeth, melainkan menjadi tubuh yang dirasuki sejarah. Bukan kesurupan dalam pengertian mistik, tetapi tubuh yang tiba-tiba memanggul sesuatu yang tidak dialaminya sendiri.

Bukankah sejarah sering bekerja demikian? Orang yang lahir puluhan tahun setelah sebuah tragedi dapat mewarisi ketakutan orang tuanya. Anak cucu seseorang dapat membawa cerita tentang perang yang tidak pernah mereka saksikan. Sebuah bangsa dapat terus memperdebatkan peristiwa yang terjadi sebelum sebagian besar warganya lahir.

Dan pada saat itulah imajinasi saya mulai sedikit nakal: bagaimana jika tubuh Shoichi yang seperti kesurupan itu bertemu dengan tubuh-tubuh dari ingatan Indonesia? Bukan untuk menggabungkan sejarah Indonesia dan Jepang secara serampangan, melainkan untuk membuat keduanya saling menatap.

Bagaimana jika Macbeth bertemu dengan hantu-hantu sejarah Indonesia?

Saya tahu, ini sudah mulai terlalu jauh. Tetapi bukankah teater memberi kita izin untuk sesekali berjalan lebih jauh dari yang direncanakan? Apalagi judulnya Warisan Bunga Hitam. Bunga tumbuh dari tanah; kita hanya melihat mekarnya, sementara sebagian besar kehidupannya berlangsung di bawah permukaan. Barangkali sejarah juga begitu: yang tampak hanyalah peristiwa, sementara akar-akarnya terus menjalar di bawah kesadaran.

Dari tubuh Shoichi, saya kemudian memasuki tubuh Yuko Kawabuchi. Yoko membawa saya kepada sesuatu yang lebih dekat dan lebih sunyi: keluarga, agama, kematian, dan leluhur. Ia memperkenalkan dirinya sebagai perempuan yang tumbuh di Kota Uozu, Prefektur Toyama, di pesisir Laut Jepang. Kedua orang tuanya penganut Buddha. Setelah ibunya meninggal, setiap bulan pada tanggal peringatan kematian sang ibu, Yuko mengunjungi sebuah kuil Buddha kecil untuk memberikan penghormatan. Setiap tahun ia juga mendatangi kuil yang lebih besar. Ketika pulang ke rumah keluarga, ia berdoa di depan butsudan, altar Buddha tradisional yang banyak ditemukan di rumah-rumah Jepang.

Tinggalkan Balasan