Warmad Versus … Mart

Karena ceruk pasar yang disasar berbeda, maka mereka juga hadir dengan tampilan dan pelayanan yang berbeda. Bangunan toko mini itu mereka desain secara sederhana, rapi, namun meriah. Dan disiapkan untuk menjajakan segala yang dibutuhkan masyarakat sekitarnya. Bahkan selalu ada pom bensin mini di depan tiap warmad itu, yang seakan menjadi ciri khasnya. Ikonik.

Yang paling khas dari toko-toko kelontong madura itu adalah buka 24 jam nonstop dengan harga yang lebih terjangkau. Itulah keunggulan dari warmad-warmad terutama yang berlokasi di kota-kota besar yang aktivitas masyarakatnya juga berlangsung selama 24 jam. Maka, ketika jam Indomaret dan Alfamart tidur, warmad-warmad itu tetap hadir, tetap terbuka untuk melayani pelanggannya. Kehadirannya memberi banyak pilihan bagi masyarakat konsumen kelas menengah-bawah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***

Fenomena warmad ini merupakan terobosan luar biasa dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat kelas menengah-bawah. Di kota-kota besar, misalnya, omzet mereka lumayan gede. Minimal Rp 20-30 juta per bulan. Bahkan, ada yang pendapatan kotornya di atas Rp 100 juta.

Dengan potensi yang demikian besar, jejaring toko-toko kelontong madura ini bukan sekadar bisa untuk bertahap hidup, namun justru bisa menjadi modal signifikan untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan, ekonomi masyarakat kelas menengah-bawah yang seringkali tertekan gurita pemodal kakap. Giliran mereka kini yang menekan para raksasa ritel tersebut.

Tinggalkan Balasan