Setelah saya lulus dari Madrasah Aliyah (MA) I Annuqayah, tiba saatnya berpamitan kepada para masyayikh. Salah satu masyayikh yang saya pamiti adalah KH Amir Ilyas. Pada saat itu, Beliau adalah kiai sepuh yang ada di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, Madura.
Saat berpamitan, saya ditemani oleh ayah dan paman saya. Sejenak kami berbincang apa adanya, sebagai nilai tali silaturrahmi dan kekeluargaan. Saat itulah saya mator (mengungkapkan) suatu hal kepada Beliau terkait dengan pengajaran. Saya memberitahukan bahwa di rumah kegiatan saya adalah mengajar. Madrasah tersebut dikelola oleh paman saya sendiri.

“Saya mohon nasihat terkait kegiatan belajar mengajar,” begitu tutur saya kepada Beliau. Kemudian, KH Amir Ilyas memberikan nasihat kepada saya.
“Ba’na ta’ olle dhak-gendhak ka moretta, ban kodhu sabbar,” (Kamu jangan suka marah kepada muridmu dan harus bersikap sabar). Demikian petuah dari KH Amir Ilayas (alm) terkait dengan proses belajar mengajar.
