Ada dua hal yang disampaikan Beliau kepada saya. Pertama, kita tidak boleh jadi pemarah kepada para siswa. Gendhak, dalam bahasa Madura, artinya sering marah. Tentu hal ini mengacu kepada kaidah syari bahwa dalam menghadapi murid harus disertai dengan ketelatenan.
Saya jadi teringat dengan kisah ulama besar, Rabi bin Sulaiman al-Muradi, yang merupakan murid dari Imam Syafii. Di dalam kisah Rabi bin Sulaiman ini dijelaskan bahwa Beliau termasuk murid yang sangat lamban dalam mencerna suatu materi. Bahkan, Imam Syafii sampai harus mengulang sebanyak 40 kali untuk sebuah pembahasan.

Meski demikian, Rabi bin Sulaiman tidak patah semangat. Atas petunjuk Imam Syafii, Beliau selalu memohon kepada Allah agar diberikan hidayah ilmu pengetahuan. Akhirnya, Rabi bin Sulaiman yang sangat dicintai oleh Imam Syafii karena pelayanan terhadapnya dan juga semangat tidak putus asa, menjadi ulama besar dan perawi hadis yang sangat kredibel (dipercaya). Demikian itu harus menjadi teladan atas kesabaran Imam Syafii dalam menghadapi murid yang kurang peka.
Kedua, KH Amir Ilyas memberikan nasihat kepada saya agar sabar dalam menghadapi beragam murid yang ada. Hal ini tentu menjadi sangat wajar karena kesabaran adalah pokok pangkal dari sebuah keberhasilan.
