Sang gajah Sena yang telah dimasuki oleh Bathara Bayu itu pun menginjakkan kakinya pada bayi Werkudoro yang terlapisi oleh cangkang keras hingga pecahlah cangkang tersebut. Namun, saat itu pula jasad gajah Sena itu lenyap merasuk ke dalam bayi Werkudoro sehingga bayi tersebut langsung dapat berjalan layaknya anak kecil. Berangkat dari peristiwa inilah, nama lain Werkudoro menjadi Arya Sena.
Arya Sena yang tubuhnya telah dimasuki oleh Bathara Bayu itu pun menjadi sakti sejak kecil. Namun, Arya Sena tidak melulu menjadi sombong dengan apa yang dimilikinya. Arya Sena tetap berguru kepada Resi Drona layaknya saudara yang lain. Sang Resi Drona mengetahui bahwa Arya Sena memiliki kekuatan lebih dari saudaranya yang lain, sehingga si Resi menaruh perhatian lebih pada Arya Sena. Di samping memiliki kelebihan berupa kesaktian, Arya Sena juga memiliki rasa tawaduk dan rasa hormat yang tinggi pada sang guru. Apa pun titah dari guru, maka akan dilaksanakan oleh Arya Sena, meskipun nyawa sebagai bayarannya. Karena sifat inilah Arya Sena memiliki sifat ambisius dengan perintah sang guru, apa pun yang menghalangi akan tetap dilawan karena saking hormatnya pada sang guru.

Sementara Duryudana, pemimpin dari Kurawa yang memiliki sifat licik, memanfaatkan sifat Werkudoro ini dengan harapan Werkudoro mampu menghilang dari bumi, sehingga kekuatan Pandawa berkurang. Siasat ini dilakukannya dengan sangat cerdik, yakni dengan memanggil Resi Drona di mana Werkudoro akan melakukan semua apa yang menjadi titah dari Resi Drona. Si Resi pun tidak mempu menolak, karena telah berikrar akan mengabdikan diri selamanya pada pemimpin Kerajaan Astina.
Dipanggilah Werkudoro oleh Resi Drona dan diberi tugas mencari tirta prawita sari –yang sebenarnya tidak ada di muka bumi ini. Alasanya, agar mampu mencapai ilmu sejati yang telah dinanti oleh Werkudoro. Resi Drona berkata bahwasannya air tersebut terdapat dalam gua dalam hutan di Gunung Tibrasoro dan Hutan Reksomuko.
Si Resi tidak mengatakan bahwa di dalam gua tersebut terdapat dua raksasa yang diharapkan mampu membunuh Werkudoro. Namun, dengan kesaktian dan keteguhan hati Werkudoro yang luar biasa, dua raksasa yang bernama Rukmala dan Rukmuka tersebut dibanting hingga akhirnya mati. Apa yang dicari oleh Werkudoro nihil. Werkudoro tidak menemukan tirta prawita sari yang dicari dan kembali ke Resi Drona untuk meminta petunjuk lagi mengenai keberadaan tirta prawita sari.
Sampai di hadapan Sang Resi, Werkudoro menceritakan apa yang telah dilakukannya selama mencari tirta prawita sari demi mendapat kesejatian hidup yang hasilnya nihil. Yang didapat bukan air keabadian yang dicari, malahan berhadapan dengan dua raksasa. Sang Resi Drona pun memberi petunjuk lagi yang lebih berat, yakni agar Werkudoro mencari tirta prawita sari ke tengah samudra tanpa menggunakan media apa pun, padahal Werkudoro tidak bisa berenang.
Berbekal keyakinan dan kepasrahan kepada dewata, Werkudoro pun melaksanakan titah tersebut tanpa pandang situasi maupun kondisi. Saudaranya mengingatkan bahwa dirinya telah ditipu oleh Resi Drona, namun Werkudoro tetap bersikukuh melaksanakan tugas demi mendapatkan ilmu sejati yang berwujud tirta prawita sari.
