Wekudoro melesat dengan diiringi badai dan angin yang dahsyat di belakangnya karena Bathara Bayu yang bersemayam dalam dirinya ikut membantu dalam pencarian tirta prawita sari ini. Sehingga, para binatang dan pepohonan tunduk ketakutan dan memberi hormat kepada Werkudoro. Namun, di balik ketakutan tersebut, para makhluk ini berusaha memberi peringatan agar Werkudoro kembali saja, karena ini hanya tipu daya dari Resi Drona agar dirinya binasa.
Setelah melewati hutan, sampailah Werkudoro di pantai. Ombak didepannya seakan mengaung kepada Werkudoro mengingatkan agar mengurungkan tugas ini, namun di hati Werkudoro sudah tertanam tekad bulat. “Lebih baik mati daripada kembali tidak membawa apa-apa.”

Dengan keyakinannya Werkudoro masuk ke dalam samudra dengan disambut sesosok naga ular bernama Amburnawa yang memiliki tubuh sebesar anakan gunung. Dililitlah badan Werkudoro oleh naga ular tersebut hingga Werkudoro hampir mati, Werkudoro ingat akan salah satu pusaka kesaktiannya, yakni kuku pancanaka, maka dibunuhlah naga ular tersebut, hingga darahnya membuat merah air di sekitar tempat pertarungan.
Setelah kematian naga ular, datangah sesosok makhluk yang mirip dengan dirinya, hanya saja badannya berukuran sangat kecil, bahkan hanya seukuran jari kelingking Werkudoro. Makhluk inilah yang bernama Dewa Ruci, seorang dewa yang menjelma menjadi anak kecil. Dewa Ruci menyuruh Werkudoro agar masuk kedalam dirinya melalui telinga kirinya. Memang tidak masuk akal, bahkan Werkudoro pun ragu akan hal ini, karena masih menggunakan akalnya. Dewa Ruci pun mengingatkan agar tidak memakai akal dalam melakukan apa yang diperintahkannya, hingga Werkudoro pun mampu memantapkan hatinya dan masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci melalui telinga kirinya, namun apa yang didapat hanyalah sebuah kekosongan. Tiada mata angin utara, selatan, timur, barat, arah atas bawah pun juga tidak ada. Dewa Ruci pun menjelaskan kepada Werkudoro, bahwa tirta prawita sari yang dicari itu tiada. Itu hanya simbol untuk ilmu sejati saja. Dan ilmu sejati yang dicari Werkudoro sudah ada di hadapannya, yakni kekosongan. Keadaan di mana tidak ada apa-apa lagi kecuali dirinya. Inilah manunggaling kawula gusti yang selama ini dicari oleh Werkudoro sendiri.
Dari runtutan kisah ini, kita dapat beberapa kesimpulan, yakni ada delapan tahapan seseorang dalam perjalanan menuju manunggaling kawula gusti. Pertama, rilo atau dalam Bahasa Arab disebut ridho, yakni keadaan di mana tidak memiliki hasrat kecuali tujuan awal dan akhirnya hanya untuk Allah.
Kedua, legowo, yaitu toleransi terhadap segala sesuatu yang terjadi pada dirinya, tidak memberati apa pun, kehilangan juga tidak apa-apa asal tidak kehilangan Allah, punya apa saja tidak apa-apa asal Allah-nya tidak hilang.
Ketiga, nerimo, yaitu senantiasa menerima hasil, tidak menyesal, tidak menuntut apa-apa terhadap apa yang didapati dirinya. Keempat, anuraga, yaitu tidak boleh sombong, tidak boleh angkuh, tidak boleh merasa benar.
