Wisata Kuliner ala Santri Sukorejo (1): Santapan Gratis Berbuah Manis

Wisata Kuliner Nusantara, Nol Biaya

Sebagai salah satu pesantren tertua di Jawa Timur, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo atau lebih terkenal dengan sebutan Pesantren Sukorejo banyak menarik minat masyarakat. Tercatat, tahun 2024 ini total jumlah santri sudah mencapai 24.713. Tentu saja, mereka berasal dari berbagai daerah dan latar belakang. Dan provinsi Jawa Timur, sebagai tuan rumah, sudah pasti menempati posisi teratas sebagai pemasok santri terbanyak untuk Sukorejo.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setiap bulan, rata-rata santri yang berasal dari Jawa Timur akan tikanan (dijenguk oleh keluarga), atau sekurang-kurangnya dikirim lewat IKSASS masing-masing daerah. Bahkan ada juga beberapa IKSASS di luar Jawa Timur yang memfasilitasi kiriman bulanan tersebut. Contohnya Bali dan Lombok. Karena masing-masing punya letak geografis dan kondisi sosial yang berbeda, tentu saja makanan khas yang dibawa pun beragam.

Tak heran, momen kiriman—lebih-lebih Maulid dan Haul—sangat dinanti oleh para santri, terutama orang-orang jauh seperti saya. Meski sebenarnya sedih karena tidak dijenguk keluarga, tapi saya cukup senang bisa menyicipi berbagai makanan khas daerah lain. Misalnya, cok koncok bawean, petis madura, tape bondowoso, pie susu bali, suwar-suwir serta prol tape jember, dan masih banyak lagi. Ah, jangan lupakan sambal lombok yang pedasnya nendang di lidah itu.

Ini baru Jawa Timur dan sekitarnya. Khusus santri dari daerah yang jauh, mereka akan membawa makanan khas daerah masing-masing ketika momen balekan atau ketika ada kebutuhan mendesak yang mengharuskan kiriman paket. Dari tradisi inilah, saya berkenalan dengan kecap asin merek Mikado yang dibawa orang Jambi, sagu lemak-nya Riau, dan baje’-nya Sulawesi.

Tentu saja, saya sadar, semua makanan khas tersebut tidak akan sama persis seperti menyantap atau berwisata langsung ke daerah asalnya. Ada suasana, nuansa, dan mungkin citarasa khas yang tak mungkin dibungkus kardus dan dibawa ke pesantren. Meski demikian, setidaknya, ini sudah sangat lumayan, daripada tidak sama sekali. Belum tentu saya bisa mencicipi kuliner khas daerah sevariatif ini andai tidak memutuskan jadi anak rantau.

Dan, yang paling penting, semua makanan itu gratis. Tidak dipungut biaya sepeser pun. Tak pernah ada ceritanya wali santri yang menagih uang sebagai ganti makanan yang mereka bawa. Yang ada, mereka akan merasa senang memberi makan spesies-spesies yang selalu lapar seperti santri. Serius! Saya berani bertaruh untuk yang satu ini.

Inilah salah satu nilai plus menjadi santri yang tidak bisa ditiru anak muda di luar sana. Bisa wisata kuliner Nusantara tanpa harus mengeluarkan biaya sepeser pun!

Tinggalkan Balasan