Wisata Kuliner ala Santri Sukorejo (2): Makanannya Datang Sendiri

Sebaliknya, ada berbagai penamaan untuk satu jenis makanan yang sama. Saya ambil contoh, martabak manis di daerah Jawa Timur dan sekitarnya disebut terang bulan. Sementara di Jambi namanya adalah apem balik. Hal yang sama juga berlaku pada kue cucur, keremes, dan lainnya. Tidak salah, ‘kan, kalau saya menyebutnya ‘makanan muradif’?

Tak Semua Lidah Bisa Menerima

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Memang benar lidah pandai berbohong. Tapi, ia tidak bisa dibohongi. Apa lagi soal rasa. Makanan yang lezat akan tetap dibilang lezat. Sebagaimana santapan yang tidak enak akan tetap dibilang tidak enak. Ia tak bisa diajak kompromi.

Namun, enak menurut Si A belum tentu lezat menurut si B. Lezat menurut Si B belum tentu cocok di lidah Si C. Dengan kata lain, standar enak-tidaknya suatu makanan sangat relatif.  Penilaian setiap orang akan berbeda-beda, tergantung lingkungan di mana ia tinggal. Itu yang saya alami sendiri dan saya amati dari teman-teman.

Kita ambil sebuah contoh. Majalengka, kabupaten asal saya, tidak mempunyai pantai sama sekali. Sehingga, ikan yang saya konsumsi tidak jauh-jauh dari ikan mujair, ikan mas, atau ikan nila.

Berbeda dengan Sukorejo yang masih tergolong daerah pesisir. Kebanyakan, ikan yang dijual di pedagang nasi adalah ikan cakalan, teri, dan sebagainya. Karena lidah saya tidak terbiasa, sampai sekarang pun, saya lebih memilih menu lain daripada ikan laut yang—menurut saya—terlalu amis itu.

Contoh lain, lidah-lidah Indonesia bagian barat—termasuk saya sendiri—tetap kurang bersahabat dengan amisnya petis Madura. Masih mending kalau petis itu disandingkan dengan mangga atau semacamnya. Tapi, kalau dijadikan sambal pendamping makan nasi, kok, kayak kurang pas. “Ya, aneh aja. Gak cocok di lidahku,” kata seorang teman asal Jambi, saat diminta berkomentar soal rasa petis.

Tinggalkan Balasan