Sebaliknya, teman-teman juga banyak yang tidak cocok dengan citarasa kecap asin Palembang yang dibawa Metha. Begitu pun dengan sambel goang khas Sunda. “Kayak makan jamu,” komentar salah satu kawan saat mencolek ulekan cabe dan kencur yang saya buat. Padahal, sambal itu adalah salah satu andalan kami di rumah.
Ternyata, iming-iming gratis saja tidak mempan untuk mengubah selera kuliner seseorang yang sudah mengakar kuat berkat lingkungannya. Meski saya juga tak memungkiri, tetap ada satu-dua orang yang bisa beradaptasi.

Makanya, saya tidak heran mendengar banyak jemaah haji yang tidak berselera makan selama di Tanah Suci. Juga saya tidak kaget di Indonesia banyak bermunculan restoran-restoran asing. Sebab, sekali lagi, lidah tak bisa diajak kompromi. Semenarik apa pun kuliner daerah lain, kalau tidak cocok di lidah, ya sudah, tidak bisa dipaksakan. Lebih baik masak sendiri saja. Seperti yang dilakukan Dimas Suryo dan kawan-kawannya; mendirikan Restoran Tanah Air di Paris.
Eh, itu cuma cerita novel, ding!
Lalu, dari semua uraian panjang lebar tadi, apa yang bisa kita petik? Cukup satu kata; syukur. Kita harus pandai-pandai bersyukur ditakdirkan menjadi santri. Tidak perlu iri sama pelajar-pelajar lain di luar sana. Santri tidak kalah hebat dari mereka, kok.
Soal kuliner, misalnya. Mereka sibuk mendatangi berbagai daerah untuk icip-icip, kita malah makanannya yang datang sendiri. Mereka rela mengocek dompet demi memanjakan lidah, kita bisa mencicipi berbagai varian makanan dengan biaya nol rupiah. Mereka sibuk bikin konten mukbang, kita juga sanggup makan sampai empat-lima kali sehari kalau sedang musim kiriman, cuma gak diunggah ke medsos saja.
Pada intinya, tidak ada yang menandingi nikmatnya berebut makanan sambil berdempetan membentuk lingkaran ala santri. Tak perlu mempermasalahkan makanan khas mana dan harus bayar berapa. Sikat saja dulu! Atau, kalau gak cocok di lidah, tinggal skip. Gitu aja kok repot?
