“Aduh Gusti…,” jawab Mbok Minah dengan perasaan cemas.
Mbok Minah lantas berlari begitu kencang hingga melupakan pembeli di warungnya. Sepasang kaki yang beralaskan bakiak kuno seperti memberikan tenaga lebih kepada tulang kakinya yang sepuh. Tak lama, Mbok Minah yang dikuntit tiga bocah dengan perasaan takut, tiba di tepi kali dengan suasana yang gamang. Indu dengan tatapannya yang tajam, seketika ia berteriak. Lalu menjatuhkan golok dan memegang jemarinya dengan sangat gemulai layaknya perempuan berparas cantik. Cahaya putih tadi tampaknya bukan hanya menghantam Indu, namun juga merasukinya.

“Mengapa rumahku kalian rusak?” ucap Indu yang berubah suaranya menjadi suara perempuan.
Mendengar suara itu, Mbok Minah tersentak sembari berkata, “Dia kembali!”
Mbok Minah lantas mengeluarkan secarik kertas putih kuno bertuliskan lafaz Arab gundul dari saku kebaya berbahan tipis dengan corak bunga-bunga yang biasa ia kenakan. Mbok Minah membaca lafaz itu dengan bibir yang hampir tak terbuka, suaranya pun begitu lirih layaknya pendosa yang sedang berdoa.
Mereka pun bergelut. Enes dan dua bocah lainnya disuguhi tontonan pergelutan batin yang ketat. Burung-burung serentak bergerombol beterbangan di udara, seakan-akan mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.
“Pergi! Carilah bambu-bambu lain yang kau anggap rumah ke tempat lain! Atau kau akan kubuat sakit yang sangat amat perih,” teriak Mbok Minah.
Indu pun berteriak dan memberontak sejadi-jadinya. Disusul suara tangis yang mulai mengaung dengan keras seperti menusuk indera pendengaran bagi yang mendengarnya. Lalu terlihat cahaya putih keluar dan berlarian tak karuan dari tubuh Indu. Bocah-bocah itu merasa ngeri seperti mengalami mimpi. Indu lagi-lagi tergeletak, tubuhnya yang kecil tak kuasa menerima kekuatan energi yang sangat dahsyat dari cahaya yang merasukinya.
Tak lama lantas Indu pun tersadar. Tak ada lagi sisa-sisa teriakan dan erangan seperti tadi. Hanya saja bahunya yang masih gemetar.
“Siapa tadi yang masuk ke ragaku Mbok?” tanya Indu. Seorang bocah yang tak tahu seperti apa yang sebenarnya terjadi.
“Tidak, bukan siapa-siapa, le,” ucap Mbok Minah seraya membetulkan ciputnya yang sedikit miring.
“Kenapa Mbok Minah jadi irit sekali berbicara,” potong seorang anak sambil berbisik.
“Entah, Mbok Minah terlihat lelah sekali,” jawab Enes.
“Sudah, lain kali kalau datang ke tempat yang baru, kita harus sopan dan jangan berbuat sembarangan ya le. Cepat kemasi barang kalian! Lihat, awan sudah lindap, nanti keburu turun hujan,” ucap Mbok Minah dengan sehelai rambut putihnya yang keluar dari ciput diterpa angin.
Mbok Minah dengan empat bocah itu lantas berjalan beriringan berbalik pulang. Bibir Mbok Minah terangkat dengan senyum tipis, lega karena pertarungan telah berakhir dan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi.
