Yang Berumah Bambu

“Oh, ya sudah, ini ambil saja tidak usah bayar, salam buat ibuk ya.”

“Baik Mbok, terima kasih banyak.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Enes lantas menghampiri teman-temannya dengan perasaan bersalah karena telah berbohong kepada Mbok Minah.

Keempat bocah itu lantas melangkah menuju ke tepi kali dengan perasaan senang bukan kepalang. Segala peralatan berburu bambu sudah siap di tangan. Selepas berlanglang selama lima menit, terdengar suara tarian jejeran bambu yang gemulai seakan-akan menyambut datangnya keempat bocah itu.

Sesampainya mereka dihadapan bambu yang sangat padat, pandangan Indu langsung tertuju ke sebuah bambu yang sudah sangat tua, yang posisinya berada di paling ujung tepi kali. Tanpa berpikir lama, anak-anak itu langsung menghampiri bambu yang seakan-akan memanggil-manggil.

“Sudah, kalian jangan dekat-dekat. Kejatuhan bambu pasti susah bangkitnya,” ucap Indu disusul tawa lebar. Indu bergegas mengambil golok di balik baju bola kebanggaannya. Dan, sekali tebas, crakkk! Bambu itu terbelah dua.

“Tenagamu kuat sekali Indu,” komentar Enes.

“Gimana gak kuat, dia udah gak sabar melahap nasi bakar,” potong seorang anak yang disusul tawa yang lain.

“Ta-tapi, kenapa air bambu ini keluarnya warna merah layaknya darah?” sahut Indu dengan nada gemetar.

Air berwarna merah itu terus mengucur dengan deras bagaikan darah segar yang keluar dari kulit yang disobek atau leher yang digorok. Warnanya kental kemerahan dan bebau amis yang menyengat sangat. Bukan seperti air dari dalam bambu seperti biasanya, melainkan lebih seperti darah. Badan Indu gemetar sangat kencang. Wajahnya pucat karena cemas, dan pandangannya mulai kabur. Kicau burung seketika sorak sorai tak ada habisnya.

Cahaya putih secara kilat tiba-tiba menghantam badan Indu. Hantaman itu begitu keras layaknya seperti hantaman penuh kemurkaan. Indu pun langsung tergeletak tak sadarkan diri.

Melihat kejadian itu, Enes langsung bergegas lari meminta ke arah warung Mbok Minah untuk meminta pertolongan. Enes ditemani dua bocah lainnya.

“Mbok, Mbok… Indu…,” ucap Enes dengan terbata-bata dengan tubuh menggigil.

“Kenapa? Kenapa Indu?”

“Indu tak sadarkan diri Mbok, di tepi kali.”

Tinggalkan Balasan