MEMOAR
Nanti bila malam kembali labuh
janji yang pernah kita catat
saling sitegang dan tuduh
lalu kita sama-sama menghitung
duka kehilangan yang tiap waktu menderai wajah kita

siapa sebenarnya yang khianat
hingga malam terasa sempit
dan bulan memilih lingsir
di tiap denyut dada kita
Pamekasan, 2021.
HARI-HARI YANG SIAL
Hari-hari yang sial
jenuh di kepala setiap hari makin bengkak
merontokkan hening paling bening
dada kita acapkali berlubang, Alina
sebab ketakutan, kesedihan, dan kesepian
menusuk setiap rongganya
ingatan jadi macet, jalan-jalannya berlubang penuh kerikil
; sebab pembangunan jadi ladang korupsi, Alina
begitu pula dada kita, tiap hari pucat pasi kehilangan api
lalu kita hanya bisa bertanya-tanya
bagaimana menutup lubang ini
sebab bukan hanya kebahagiaan yang tiap hari dikeruk
; tanah dan bebatuan pula
telah menjelma gedung dan jalan yang membakar kepala kita
di dadaku di dadamu luka-luka makin lelap
semenjak doa-doa hanya termangu di gelap jendela
dan kamiskinan menjadi janji penguasa
