Yang Keramat, yang Melawan Ortodoksi

Yang menggelitik George Quinn, seperti diungkapkan dalam Epilog, adalah bagaimana tradisi ziarah ke situs-situs keramat justru kian marak ketika Islam ortodoks telah menguasai dan meramaikan ruang-ruang publik. Padahal, berdasarkan penelusuran sejarah yang diperoleh George Quinn, praktik-praktik kuno, yang pra-Islam, itu yang justru ingin diberangus melalui penyebaran ajaran Islam karena sianggap sebagai bidah dan syirik. Lebih-lebih, ketika gerakan Wahabi mulai menggelinding dari Tanah Arab ke Tanah Jawa, yang ingin memurnikan ajaran Islam “semurni-murninya”. Di Tanah Arab sendiri, pada 1920-an situs-situs keramat mulai dihancurkan.

Terhadap fenomena ini, George Quinn mencoba menarik benang merah secara hati-hati. Menurutnya, bagi batin orang Jawa, Islam yang ortodoks, yang syariah an sich, memang tak cukup memberi ruang untuk “berintim-intim dengan Tuhan”. Ruang “Islam ortodoks” itu di sini disimbolkan dengan masjid yang kian megah, namun kaku, rigid, seragam, dan patriakis, cenderung didominasi kelelakian. Orang-orang tetap datang ke masjid untuk salat dan ngaji. Tapi yang mereka cari tak ada di sana. Mereka menemukan “keintiman” dengan penguasa jagat justru di situs-situs keramat itu. Situs-situs keramat itu dianggap lebih familiar, melindungi, sederhana, dan tak (lagi) patriakis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Apakah benar demikian? George Quinn tak berani mengambil kesimpulan. Tapi, seperti diungkap sepanjang buku, munculnya situs-situs keramat beserta sejarah yang menyertainya memang diakui sarat dengan perlawanan terhadap dominasi ortodoksi itu. Jika membaca buku ini secara utuh, akan tergambar dengan jelas cerita tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan situs-situs keramat itu memang sarat dengan perlawanan terhadap dominasi kuasa agama ortodoks. Jika sekarang semakin banyak orang menziarahinya, bisa jadi fenomena yang sama yang terjadi.

Data Buku:
Judul           : Wali Berandal Tanah Jawa
Pengarang  : George Quinn
Isi                : 552 Halaman
Penerbit      : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun          : 2021

Tinggalkan Balasan