
George Quinn, penulis buku ini, menyebutnya dengan istilah buah dari pertemuan antara iman Islam dengan sejarah (atau kearifan) lokal. Selama bertahun-tahun, peraih gelar doktor dari Universitas Sydney, ini mengunjungi ratusan situs keramat yang bertebaran di Tanah Jawa. Ia tak sedang rekreasi atau mengikuti wisata religi. Ia melakukan riset dan studi budaya dan agama, melacak sumber-sumber yang jauh atas keberadaan situs-situs tersebut, dan membuka relasinya dengan konteks zaman.
Hasilnya adalah buku setebal 552 halaman ini. Buku yang terbit dalam edisi Inggris tahun 2019 dan edisi Indonesia pada Februari 2021 ini terdiri dari 10 bab plus prolog dan epilog. Di sepanjang buku ini, kita dituntun untuk “menziarahi” situs-situs keramat di berbagai tempat di Pulau Jawa sesuai dengan babakan sejarahnya lengkap dengan cerita-cerita rakyat yang menyertainya, mulai dari situs para wali sohor penyebar Islam di Jawa, situs trah raja-raja Jawa, situs tokoh-tokoh lokal pembela rakyat kecil, hingga makam Mbah Priok dan yang teranyar makam Gus Dur.

Tentu, yang memperoleh tempat utama adalah situs makam keramat para Wali Songo. Namun, buku ini juga memberi tempat terhotmat untuk tokoh-tokoh lain yang tak begitu dikenal seperti Pangeran Punggung, Nyai Ageng Bagelen, Nyai Ageng Pinatih, Nyai Ageng Bandha, dan Nyi Ageng Manila, misalnya. Semua dilengkapi dengan cerita-cerita rakyat yang menudungi kelanggengan situs-situs keramat tersebut.
