Yerusalem yang sekarang bukanlah kota dari masa lalu. Tapi ia belum menjadi kota masa depan. Ia tergantung di antara dua kutub waktu: selalu ingat, tapi sulit berubah. Dan mungkin, seperti kata seorang penyair yang pernah singgah di kota itu, “Yerusalem bukan untuk didiami, tapi untuk diimani.” Kalimat itu terdengar indah, sampai kita menyadari: iman yang terlalu absolut bisa menjadi alasan untuk membakar rumah orang lain.
Ada bagian yang paling getir dalam buku Hazleton: ketika ia menyadari bahwa di Yerusalem, bahkan ruang kosong pun bisa diperebutkan. Bukan karena tanah itu subur, tapi karena tanah itu punya sejarah. Di kota lain, rumah bisa menjadi tempat tinggal. Di Yerusalem, rumah bisa menjadi simbol. Dan simbol selalu punya harga, yang sering dibayar dengan kehidupan.

Hazleton tidak mengakhiri bukunya dengan harapan besar. Ia hanya menutup pintu dan berjalan pergi. Tapi buku ini tetap terbuka—seperti luka yang belum sempat dijahit. Ia menulis bukan untuk mengajak, tapi untuk mengingatkan. Bahwa di tempat di mana kesucian diklaim terlalu sering, yang tinggal hanyalah keheningan yang getir.
Yerusalem mungkin akan tetap seperti ini: kota yang mendoakan dan membakar. Kota yang tak bisa ditinggalkan, tapi juga tak bisa dihuni sepenuhnya. Di sana, langit terlalu dekat, dan bumi terlalu padat. Mungkin itu sebabnya banyak orang kehilangan arah: terlalu sibuk menatap ke atas, dan lupa menengok mereka yang terluka di bawah.
Dan seperti Hazleton, kita pun hanya bisa membaca. Mungkin itu cara paling manusiawi untuk tetap peduli tanpa ikut membakar. Mungkin itu satu-satunya cara untuk mencintai kota yang bahkan tak bisa mencintai dirinya sendiri.
Data Bukan:
