Ada satu kesunyian yang terasa di halaman-halaman buku ini: semacam kelelahan. Kelelahan karena menyaksikan kota yang terus menuntut kesetiaan mutlak, dan tak pernah memberi ruang bagi keraguan. Hazleton bertemu dengan orang-orang yang dulu lembut, lalu menjadi militan. Ia melihat bagaimana keyakinan, bila dibiarkan berjalan tanpa pengawasan, bisa berubah menjadi topeng kekuasaan.
Dan mungkin, Yerusalem memang tak pernah adil terhadap mereka yang ragu. Di kota ini, keraguan adalah dosa. Ia tidak punya tempat di antara tembok ratapan, masjid-masjid tua, atau gereja-gereja bersejarah. Di tempat ini, orang hanya boleh percaya, atau keluar. Hazleton memilih keluar. Tapi sebelum itu, ia menulis.

Hari ini, Yerusalem kembali menjadi halaman depan. Dentuman masih terdengar, meski sering kali dibungkam oleh istilah-istilah yang tampak netral: “operasi militer,” “perlindungan warga sipil,” “hak membela diri.” Tapi kota itu tahu: kata-kata bisa berbohong, dan luka tetap terasa nyata.
Perang yang terjadi sejak 2023 di Gaza, dan ketegangan yang menjalar hingga Yerusalem, membuat kita kembali bertanya: berapa lama lagi kota ini bisa bertahan tanpa hancur oleh hasrat orang-orang yang mengaku mencintainya? Sebab seperti cinta yang posesif, kasih sayang yang terlalu mutlak pun bisa mencekik.
Hazleton, dalam tulisannya yang tenang tapi menusuk, sebenarnya sudah memberi peringatan. Ia tidak menunjuk siapa yang salah, karena dalam konflik yang begitu panjang dan rumit, menunjuk seringkali hanya membuat jari kita sendiri terluka. Ia hanya mencatat perubahan—dan dari catatan itulah kita bisa meraba: kota ini tidak sedang menuju kedamaian, melainkan sedang mencari alasan baru untuk kembali bertengkar.
Kota yang Menggantung di Antara Waktu
