Situasi di atas, yang tiap bulan menunjukkan indeks penurunan terus menerus, bukan hal baik bagi kelangsungan duniasantri itu sendiri. Penting sekali ada upaya antisipasi dan menyegarkan kembali supaya duniasantri mampu melesat ke atas, lebih tinggi, bertengger di antara media online (keislaman) mainstream. Atau, setidaknya menyamai perolehan seperti bulan Maret 2023. Pertanyaannya sekarang, apa yang harus dilakukan untuk menggapai itu semua?
Pertama, yang paling realistis taksiran saya adalah, memanfaatkan media sosial. Meninjau laporan Survei We Are Social, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia per Januari 2023 mencapai 212,9 juta. Meningkat 3,85% dari tahun sebelumnya. Media sosial dapat digunakan sebagai media memperkenalkan duniasantri lebih luas, lebih massif, menjangkau generasi milenial yang mayoritas aktif bermedsos. Di dalam medsos ini membuat semacam konten grafis untuk menunjang minat berkunjung ke duniasantri.co. Nilai keislaman, santri, kepesantrenan, dan semuanya yang berkaitan dengan duniasantri, dikemas dengan balutan nuansa masa kini yang unik dan menarik.

Namun, mengembangkan ke dunia medsos bukan perkara mudah, membutuhkan sumber daya yang mumpuni untuk menggawangi ranah tersebut. Berdasarkan penjelesan pimpinan redaksi JDS (8/8/2023), sumber daya di duniasantri terbatas. Oleh sebabnya, jika ingin seperti itu tentu harus merekrut personil (pengurus) tambahan. Permasalahannya kini, duniasantri sumber daya serba terbatas, termasuk ihwal pendanaan; tidak stabil, sering “byar-pet”. Padahal ketika personil itu direkrut dan bekerja, pastinya menginginkan fee atas jasa yang telah dikeluarkan. Itulah yang menjadi problematika tersendiri.
Kedua, istikamah mem-publish konten tulisan. Ya, memang ada tren penurunan kualitas tulisan dari para santri. Titik tekan saya disini adalah memaksimalkan pada rubrik teras. Ini sejatinya kembali pada konsep awal media yang digagas oleh “lima serangkai”; Bisri Effendy (12 Maret 1953-17 Agustus 2020), Ngatawi Al-Zastrouw, Mukhlisin, Daniel Kwan, dan Cak Tarno, yaitu citizen journalism. Saya rasa setiap hari di pondok pesantren pasti memiliki kegiatan, dan itu berbeda-beda. Jadi, jangan hanya menunggu kontributor mengirim tulisan tentang kegiatan pondok. Sebab, kurang efektif. Terlebih, biasanya itu kegiatan yang sifatnya insidental, seperti haul, khotmil quran, dan lain sebagainya.
Saya mengamati praktik ini terjadi di tahun pertama, pengurus JDS membagikan informasi berita santri dan kepesantrenan. Adapun di tahun kedua sampai saat ini mulai kendur. Karena warga duniasantri banyak, dan kebanyakan juga mukim di pondok. Untuk itu, pengurus JDS bisa menjalin kemitraan dan mengorganisasi setiap santri sebagai perwakilan dari pondok yang ditempati. Nantinya dibuat grup tersendiri. Pengurus JDS mengarahkan agar segala kegiatan yang ada di pondok ditulis, diabadikan, apapun itu. Selain itu, menjadi konsultan bagi para santri, misal, santri bertanya perihal kegiatan A bisa diterima atau tidak. Kalau sesuai, berarti tinggal lanjut ditulis.
