Maka tujuh tahun ini semestinya tidak hanya dirayakan sebagai keberhasilan bertahan. Ia perlu dipahami sebagai proses pendewasaan. Para pengelolanya belajar bahwa media bukan hanya soal seberapa banyak tulisan diterbitkan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah ruang dibangun dan dipertahankan. Mereka belajar bahwa tidak semua tulisan harus mengejar viral. Tidak semua gagasan harus mengikuti selera algoritma. Tidak semua karya harus tunduk kepada ukuran popularitas dan viralitas.
Ada tulisan yang mungkin hanya dibaca oleh sedikit orang, tetapi memberi arti besar bagi penulisnya. Ada kesaksian seorang santri yang mungkin tidak menjadi berita besar, tetapi kelak menjadi dokumentasi berharga tentang zamannya. Ada pemikiran seorang kiai yang mungkin tidak masuk dalam percakapan media nasional, tetapi penting bagi generasi yang sedang mencari arah.

Media alternatif bekerja di wilayah semacam itu. Ia tidak selalu berada di tengah sorotan. Tetapi justru karena itu, ia mempunyai kesempatan untuk mendengarkan suara-suara yang sering terlewatkan.
Merayakan Literasi, Bukan Sekadar Merayakan Usia
Peringatan tujuh tahun duniasantri.co tahun ini terasa penting. Perayaannya tidak berhenti pada seremoni ulang tahun. Ia diterjemahkan menjadi Festival Dunia Santri yang digelar di lima kota: Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, dan Yogyakarta.
Pilihan bentuk kegiatannya juga menarik. Ada pelatihan jurnalistik dan penulisan kreatif, bedah buku Api Pancasila dan Agama, Pengetahuan, Sastra, lomba penulisan orang-orang pesantren, penerbitan buku, dan seminar korpus 5000 tulisan santri. Puncaknya adalah gabungan perayaan Hari Santri Nasional dan Sumpah Pemuda Oktober nanti di Jakarta.
Semua itu memperlihatkan satu hal, duniasantri.co ingin menjadikan ulang tahunnya sebagai momentum untuk kembali kepada alasan mengapa ia dulu didirikan—literasi.
Sebab literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan memahami kehidupan, mengolah pengalaman menjadi pengetahuan, dan kemudian membagikan pengetahuan itu kepada orang lain.
Pesantren memiliki tradisi literasi yang sangat panjang. Kitab-kitab ditulis, dibaca, dikaji, diberi catatan, disyarahi, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi keilmuan pesantren sesungguhnya sangat dekat dengan budaya membaca dan menulis, dan yang berubah hanyalah medianya.
Dulu ilmu berjalan melalui kitab, manuskrip, surat, majalah, buletin, dan buku. Kini ia juga berjalan melalui website, media sosial, podcast, video, dan berbagai bentuk komunikasi digital. Maka ketika duniasantri.co mengajak santri menulis, sesungguhnya yang sedang dilakukan bukan sekadar mengajari teknik jurnalistik atau penulisan kreatif. Ada tradisi panjang pesantren yang sedang dicari bentuk barunya. Santri didorong untuk tidak hanya menjadi pembaca realitas, tetapi juga penulis realitas.
Mereka diajak melihat bahwa pengalaman hidup di pesantren memiliki nilai. Kegelisahan seorang santri memiliki cerita. Pengalaman mengaji memiliki makna. Hubungan dengan kiai memiliki dimensi sosial dan kebudayaan. Kehidupan di asrama, tradisi Ramadan, perjalanan pulang kampung, pengalaman menjadi anak pesantren di tengah perubahan zaman—semuanya layak ditulis. Sebab sesuatu yang tidak ditulis berpotensi hilang dari ingatan.
5000 Tulisan Santri dan Masa Depan Suara Pesantren
Proyek 5000 tulisan santri memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar jumlah. Lima ribu tulisan adalah lima ribu suara. Lima ribu pengalaman. Lima ribu cara memandang dunia. Lima ribu kemungkinan pengetahuan yang lahir dari ruang-ruang pesantren.
Bayangkan jika setiap tulisan santri adalah satu jendela. Ada jendela yang menghadap tradisi, ada yang menghadap masa depan. Ada yang berbicara tentang agama, pendidikan, kebudayaan, lingkungan, teknologi, ekonomi, keluarga, cinta tanah air, dan persoalan sosial. Jika seluruhnya dihimpun, kita tidak hanya mendapatkan kumpulan tulisan. Kita mendapatkan potret sebuah generasi. Generasi santri yang sedang tumbuh di tengah perubahan zaman.
Mereka hidup di antara kitab kuning dan telepon pintar. Mereka mengaji di pesantren, tetapi juga bersentuhan dengan dunia yang tidak mengenal batas geografis. Mereka mengenal tradisi sekaligus teknologi. Mereka menghadapi pertanyaan-pertanyaan baru yang mungkin tidak pernah dihadapi generasi pesantren sebelumnya, karena itu, suara mereka penting. duniasantri.co, dengan segala keterbatasannya, telah menyediakan ruang agar suara tersebut tidak hilang begitu saja.
