Patriarki dan Fatherless: Warisan Trauma yang Harus Kita Akhiri

Indonesia sedang menghadapi epidemi tak kasatmata: fenomena fatherless country. Saat ini, kita dikepung oleh realitas di mana jutaan anak tumbuh dengan sosok ayah yang hadir secara fisik—duduk di ruang tamu, pulang setiap malam, membiayai sekolah—namun sepenuhnya “absen” secara emosional.

Lingkar Ayah Indonesia (2025) menemukan bahwa lebih dari 60% anak usia remaja urban, termasuk Jawa Barat, jarang berinteraksi dengan ayahnya secara langsung dalam seminggu. Kondisi itu diperparah tingginya angka perceraian yang berdampak langsung pada meningkatnya jumlah anak yang tumbuh tanpa kehadiran dan figur sosok ayah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat bahwa jumlah perceraian di Indonesia mengalami kenaikan pada 2025, mencapai 438.168 kasus, naik sekitar 10% dibandingkan tahun sebelumnya

Mengapa fatherless merajalela di Indonesia? Jawabannya: karena kita masih memelihara berhala usang bernama budaya patriarki.

Secara filosofis, munculnya budaya patriarki disinyalir akibat kesalahan manusia yang selama ini terjebak dalam pemikiran stereotip yang salah. Sistem patriarki di Indonesia berhasil mengurung laki-laki dalam kotak sempit bernama breadwinner (pencari nafkah).

Sejak kecil, anak laki-laki dididik untuk menjadi kuat, rasional, dan pencetak uang. Ranah domestik seperti mengasuh, menemani, memvalidasi emosi, dianggap wilayah inferior yang hanya pantas diurus perempuan. Ada beban sosial tak tertulis: jika seorang ayah terlalu intim mengurus anak, maskulinitasnya dianggap luntur.

Padahal, Indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim. Perlu ditegaskan bahwa Islam tidak pernah menempatkan ayah sebagai penguasa rumah tangga dalam makna otoritarian.

Tinggalkan Balasan