Setelah Ketukan Pintu Terakhir

Ia tidak bereaksi apa-apa tepat saat tiga orang berseragam biru tua mengetuk pintu bagian luar. Di dalam rumahnya, serta di kepalanya sudah berputar macam ketakutan, apalagi seluruh keluarganya pulas dalam dengkur. Hanya Upek, ayahnya, yang dengan tergesa terbangun untuk membuka pintu. Ia membuntuti dari belakang mengintip dari pintu kamar tengah. Sehabis membuka pintu, Upek sudah raib; terakhir kali ia melihat ayahnya itu diseret dan ditendang. Tiga orang berseragam biru tua, yang dengan mudah ia akan ingat wajah-wajah mereka. Lalu, ia menangis pada ibunya yang tidur dan menceritakan apa yang telah terjadi. Ibunya juga ikut meraung-raung.

***

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Matropik menjauh dari ibunya yang memilih bersuami lagi. Tepat puluhan tahun yang lalu Matropik tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya paham jika ayahnya diculik oleh tiga orang berseragam biru dan tidak akan pernah kembali untuk waktu yang sangat panjang. Atau, mungkin saja kembali dengan keadaan sudah tidak bernyawa. Matropik tidak pernah berharap lebih, atau bahkan mengharap ayahnya kembali. Dalam pikiran Matropik, tiga orang berseragam itu telah menyakiti ayahnya, entah dengan cara ditendang atau bahkan dicabut kukunya satu per satu. Begitulah kekejaman mereka yang diingat Matropik hari ini, setelah jauh dari ibunya.

“Mas, ibu saya dulu juga korban dari orang-orang berseragam itu,” istri Matropik seperti bernostalgia.

“Mereka memang utusan yang kejam, sama kejamnya dengan pemimpin mereka,” balas Matropik.

Hening sesaat, sebelum akhirnya ingatan itu muncul kembali di kepala Matropik. Ia mengingat ayahnya yang baik dan sepanjang hari kerja di pasar. Matropik kadang ikut ayahnya untuk berjualan bahan-bahan kebutuhan pokok. Itulah satu-satunya penghasilan yang bisa menghidupi Matropik, sampai ayahnya dijemput paksa itu.

Tidak ada yang berani menggugat atau mengadu kepada siapa pun ketika ayah Matropik dijemput tiga orang berseragam. Matropik menaruh kesal kepada dirinya, kenapa saat itu ia tidak ikut saja dengan ayahnya, kalau pun mati paling tidak ia bisa mengetahui keadaan ayahnya. Sementara ibunya, sudah seperti orang yang kurang peduli kepada Matropik, mungkin karena ia sudah beristri atau hal lain.

Matropik juga ingat semalam setelah ayahnya dijemput paksa, satu-satunya orang yang berusaha menghibur tidak lain adalah ibunya. Ia selalu meraung-raung menangis menyebut nama ayahnya. Ibunya kadang juga meneteskan air mata ketika Matropik terus menangis. Saat itu, ibunya selalu meyakinkan jika tidak lama lagi ayahnya akan kembali; sejenak Matropik percaya. Sehari sesudah ucapan itu ayahnya tidak muncul batang hidungnya dan ibunya terus mengulangi ucapan yang sama. Matropik juga tidak tahu mengapa ayahnya didatangi tiga orang berseragam biru tua, dia benar-benar tidak paham. Sampai akhirnya di sekolah menengah atas ia diberi pelajaran tentang keadaan mengerikan pada tahun di mana ayah Matropik dijemput paksa.

“Dik, kata ibu ayah dijemput paksa tepat sehari setelahh mengeluh karena harga barang dagangannya yang kelewat murah. Padahal beberapa bulan sebelumnya harga normal-normal saja dan hari itu harga-harga barang banyak yang turun.”

“Beda dengan aku, Mas. Aku tidak tahu kenapa malam itu ibu benar-benar dijemput oleh lima orang yang tidak berseragam resmi. Tiga orang menghalangi ayah dan dua lainnya menyeret ibu. Saat itu aku hanya bisa menangis.”

Matropik tumbuh dengan menjadi anak kecil yang sama sekali kurang kasih sayang ayahnya. Ia selalu merasa sendirian ketika penerimaan rapor di sekolah. Teman-temannya yang lain selalu datang bersama ayahnya, namun tidak dengan Matropik. Satu-satunya cara ialah pamannya yang datang menggantikan ayah Matropik. Sebab tidak mungkin kalau ibunya yang mengambil ke sekolah. Di kampungnya, perempuan tidak bebas melakukan apa yang bisa dilakukan lelaki. Kalau kebetulan pamannya tidak bisa hadir, maka Matropik meminta sendiri ke kantor. Beruntung guru-guru dulu pada paham bagaimana keadaan Matropik dan musibah yang menimpa keluarganya.

Ingatan itu yang terus menghantui Matropik sewaktu tidak ada pekerjaan seperti sekarang ini. Saat ia sudah bercakap-cakap dengan istrinya, ia kerap mengingat apa yang menimpa Upek—ayahnya. Apalagi istrinya kadang secara tidak sengaja juga mengingat ibunya yang mengalami hal nyaris serupa. Mereka seperti disatukan oleh nasib yang sama, sama-sama melihat dengan kepala sendiri bagaimana keluarganya diseret oleh orang-orang yang kejam.

Tinggalkan Balasan