Pemandangan pasar pagi ini sama seperti biasanya. Di pinggir jalan terlihat ada tukang becak, penjual makanan, kuli angkut, tukang parkir. Hanya, bedanya, pengunjung yang terlihat semakin sedikit.
Pandanganku tertuju pada seorang kakek padagang somay, dengan sepeda tuanya yang sudah reyot, seperti seirama dengan kondisi fisiknya yang terlihat ringkih.

Kuhampiri dagangannya. Baru saja turun melangkahkan kaki ke arahnya, si kakek penjual somay langsung tersenyum seperti menyambut kedatanganku. Rasanya hati terenyuh melihat sikap si kakek penjual yang begitu ramah.
“Dari pagi ndak ada yang beli, Mas. Alhamdulillah, Mas yang pertama beli,” tutur si kakek sambil membungkus pesananku.
Aku cuma mengangguk melas, lalu kakek berujar lagi. “Lha gimana, kalau ndak dagang juga ndak bisa makan. Makanya kalau disuruh di rumah aja ya ndak bisa”.
