Berbagi di Tengah Pandemi

Ya Allah, betapa kurang bersyukurnya hamba-Mu ini. Tiap pagi, siang, sore masih bisa makan enak sampai kenyang. Kalau mau juga bisa mentong alias makan malam, belum jajannya. Tapi kok lebih sering sambat, jarang berdoa tapi sekalinya berdoa isinya ngersulo semua. Disuruh di rumah saja biar untuk memutus penyebaran wabah masih juga bandel keluar buat beli-beli.

Memang seharusnya adanya wabah Corona menjadikan banyak pelajaran bagi kita semua. Ibnu Hajar Asqolani yang menulis kitab بذل الماعون في فضيلة الطاعون, “Pemberian Bantuan kepada Penderita Thoun”, menegaskan pentingnya kita untuk memberi bantuan kepada orang-orang apabila ada wabah (thaun) yang melanda.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bukankah di antara kita ada yang mampu, hartanya berkecukupan, saldo tabungannya berlipat-lipat nol digit, stok berasnya banyak. Merekalah yang seharusnya tetap diam di rumah, tak perlu keluar untuk mengurangi risiko penyebaran pandemi. Karena, tentu cukup persediaan untuk tak bekerja beberapa hari.

Sementara yang tetap harus bekerja, biarkan bekerja, tentu dengan standar kesehatan, mengenakan masker, menjaga kebersihan, lebih bagus kalau si kaya tadi bisa menyumbangkan masker secara gratis. Jangan malah semakin rakus dan tamak. Sudah tahu orang-orang butuh masker, eh malah memborong banyak, ditimbun, lalu dijual dengan harga melambung saat barang langka.

Orang-orang butuh stok bahan bahan, ada saja yang tega menimbun agar bisa menjualnya lebih mahal. Kasihan orang-orang miskin, yang kelangsungan hidupnya saja harus diperjuangkan dari hari ke hari. Mereka yang jika tak kerja pagi tak makan sore, bukannya mendapat keringanan, bantuan, malah semakin tersiksa karena harga-harga meroket.

Tinggalkan Balasan