DOA YANG TERBAWA KE PANGKUANMU
(Haul pendiri dan reuni alumni Nurul Islam)
Telah tersampaikan dauh laut lewat panjatan doa. Menghentikan kembara di kota tanda tanya. Sebab, semesta sedang merayakan kepergian di pangkuanmu, sembari merangkai kembali peristiwa-peristiwa masa lalu yang pecah di lubuk kenangan. Ada budi yang menjadi harapan bagi kaki-kaki berwajah kepiluan. Meski tubuh berada di kursi bayangan di sepanjang waktu. Entah, kuasa masih berlabuh pada gelombang yang menjadi ratu bagi langkah, atau hanya tersurat di desir angin yang berbagi kehidupan dengan layar cakrawala jiwa. “Aku putuskan menjadi pinta bagimu, guru.”

Hendak ke mana pemujaan berlalu? Jantungmu telah berpenghuni harapan, setiba senja di antara purnama yang kembali dari perantau luka di atas laut kesunyian. Setelah mengucapkan, “pada tanah leluhur doa bersemayam.” Bahasa menjadi keabadian sunyi yang menyatu pada bahasa malam. Memuja megah warna abjad doa. Sambil lalu membacakan waktu yang bisu di dadaku. Padahal, purnama masa sudah dilestarikan dalam lagu-lagu Tuhan. Sebelum pagi menyapa kiblat di mata matahari. Ah, masih saja doa berarah pemujaan, bersemesta gelap di embun air mata. “Kubawakan doa bermunajat di pangkuanmu, guruku.”
Karangcempaka, 6 Juli 2022.
