Semasa kuliah, saya bukan mahasiswa istimewa. Tapi di akhir masa perkuliahan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember itu, saya memperoleh perlakuan “istimewa”. Mungkin, sayalah orang pertama yang diberi surat keterangan (suket) lulus, bukan ijazah. Dan hingga bertahun-tahun kemudian, hanya suket itulah yang saya gunakan untuk berbagai kepentingan.
Saya pun tak pernah menduga peristiwa itu bakal terjadi. Ceritanya, beberapa hari setelah ujian skripsi, saya dipanggil dekan, namanya A Nizar Hasyim, biasa disapa Pak Nizar.

Pak Nizar, yang juga menjadi pembimbing skripsi saya, menyarankan saya ikut seleksi rekrutmen wartawan di Harian Surya. “Sekarang masa pendaftarannya, kamu ikut saja,” katanya.
Saya kaget, karena saat itu baru ujian skripsi. Belum yudisium. Belum wisuda. Baru beberapa bulan kemudian baru ada jadwal yudisium dan wisuda. Artinya, sebelum itu, saya belum bisa memegang ijazah. Maka, saya bilang ke Pak Nizar, “Saya kan belum punya ijazah, Pak.”
“Gampang, nanti saya bikinkan surat keterangan lulus,” sahut Pak Nizar, enteng saja, sambil memberi rekomendasi agar saya menemui seseorang.
