Sejarah tidak selalu hadir melalui arsip dan catatan peristiwa. Ia juga dapat dihadirkan melalui kenangan, cinta, keluarga, dan pengalaman manusia.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam bedah novel Secangkir Kopi Terakhir Ayah karya Prof. Drs. Jajang Jahroni, MA, Ph.D., yang digelar Asosiasi Program Studi Sejarah Islam se-Indonesia (APSII) bersama Asosiasi Dosen Ilmu-Ilmu Adab (ADIA), Selasa (6/10/2026).


Kegiatan bertajuk “Ketika Sejarah Menjadi Kisah: Membaca Memori, Cinta, dan Jejak Masa Lalu dalam Historical Romance Secangkir Kopi Terakhir Ayah” berlangsung secara berani melalui Zoom. Pembahasan tersebut membahas proses kreatif penulis dalam mempertemukan fakta, imajinasi, dan emosi dalam sebuah karya fiksi.
Dalam sesi tanya jawab, Jajang menjelaskan bahwa dirinya tidak ingin terlalu terbebani oleh keharusan menempatkan setiap bagian novel secara ketat dalam kerangka sejarah. Meski demikian, bagian yang berkaitan dengan fakta sejarah tetap ia penelitian dan periksa agar tidak terjadi kekeliruan.
Ia mencontohkan peristiwa Lengkong dan Kerawang-Bekasi yang terdapat dalam novel. Untuk memastikan konteksnya, ia melakukan penelitian melalui berbagai sumber dan bertanya kepada sejumlah orang yang memiliki informasi terkait.
