Yang tak tertulis oleh pena tapi tersalin dalam ingatan adalah langkah kaki gemetar seorang sepuh yang biasa menyuguhkan suara khasnya dalam lantunan adzan maghrib, isya, dan kadang dhuhur juga ashar. Ialah kakek tua yang kerapkali menemani sisa penghabisan hari di surau sehabis isya. Kami seringkali didongengi tentang kenangan, ya kenangan. Itulah yang barangkali menjadi harta paling berharga dan cukup utuh bagi seorang yang berusia lanjut macam kakek ini.
Ya, beliau adalah santri amoh. Disebut santri bukan karena beliau ikut mukim di pondok, tapi saban aktivitas pesantren terutama ngaji dan jamaah jangan ditanya lagi etosnya beliau. Aku yakin jika kau melihatnya secara langsung, akan malu. Disebut amoh sebab usia beliau yang telah masuk kepala sembilan. Syahdan, di usia sesepuh itu beliau masih rajin menghadiri aktivitas pesantren, padahal rumah beliau berjarak 100 meter dari pondok. Begitulah. Tak jarang beliau dengan tawa khasnya ikut guyon dengan kami, sesrawung mendengarkan dan lebih banyak melempar senyum. Sungguh, hanya dengan melihat beliau saja melahirkan semacam perasaan tertentu yang intinya adalah ketersadaran. Mungkin beliau adalah kitab berjalan. Mungkin.

Seringkali aku tiba-tiba merenung kala beliau bercerita. Ya, kalian harus tahu bahwa beliau sangat suka bercerita. Ini mengasyikkan, tapi pada waktu tertentu bisa kurang mengasyikkan. Sebab kadang engkau ingin buru-buru melakukan sesuatu, tapi tak sopan rasanya sebelum beliau benar-benar mengakhiri ceritanya.
