Seringkali, jika di suatu hari kami tak melihat kakek sepuh ini ada di surau, terbesit kekhawatiran, apakah beliau sedang sakit. Sebab di usia yang hampir mencapai kepala 9, adakah aktivitas yang patut diusahakan kecuali yang barang tentu itu kewajiban, seperti sholat. Dan tahulah kalian bahwa masih banyak orang sepuh di sudut-sudut desa yang akan berjuang sekuat tenaga untuk bisa melaksanakan lima waktunya dengan berjamaah. Bahkan, ada diantara orang sepuh itu yang ketika berangkat harus menggunakan tongkat, berjalan dengan sungguh pelan dan hati-hati, tapi mereka sungguh bersemangat (justru ada yang mengatakan itu adalah hiburan mereka. Hiburan? Ya) dan tak sekalipun terlihat mereka merasa terbebani oleh keadaan yang tak mudah itu. Saat melihat mereka yang demikian itu, sudah barang tentu menjadi insaflah siapa pun yang muda dan sehat akal-jasmaninya.
Aku jadi teringat adagium, manfaatkanlah sungguh masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Dan mengingat itu kadang juga menyisip renung, akankah aku diberi kesempatan untuk merasakan juga masa tua. Entah. Waktu kian jadi barang yang sungguh berharga. Ya, benarlah jika dikatakan bahwa waktu adalah kehidupan. Atau tepatnya, waktu adalah modal yang tak bisa dikulak kembali sehingga yang tersisa kelak (jika tak bisa memanfaatkan) mungkin hanya sesal.

Lalu apakah yang akan–harus–kita lakukan? Menunggu tua dulukah untuk bisa sadar kemudian menyesal telah terlambat sadar? Tidak, tidak perlu tua untuk sadar diri. [Wahai diri, sekecil apa pun yang bisa dikerjakan hari ini, kerjakan. Ingat, di penjuru mana pun kau dilahirkan dengan janji menjadi hanya sebagai abdi, sekali lagi kau telah berjanji menjadi hanya sebagai abdi. Kebaikan ada di mana-mana jika kau menyadari makna siapa dirimu.]
