Menjaga Ruh Islam di Tengah Sekularisasi Kampus

Seiring berkembangnya zaman, arus globalisasi dan modernisasi semakin berkembang pesat. Universitas Islam pun kini tengah menghadapi tantangan serius: sekularisasi akademik. Fenomena ini menandai pemisahan antara agama dan kehidupan publik yang mulai merambah pula ke dunia pendidikan tinggi. Akibatnya, institusi yang seharusnya menjadi pusat integrasi antara ilmu dan iman justru mulai kehilangan ruh keislamannya.

Sekularisasi di lingkungan kampus terlihat dalam bentuk kurikulum yang cenderung netral nilai. Rasionalitas dan kebebasan berpikir lebih dikedepankan, sementara aspek spiritual kerap terpinggirkan. Nilai-nilai Islam yang seharusnya menjadi fondasi pembentukan karakter mahasiswa sering kali hanya hadir dalam mata kuliah keagamaan yang terpisah, bukan landasan dalam setiap bidang ilmu. Padahal, seperti yang dikatakan Fazlur Rahman, “Tujuan Pendidikan Islam bukanlah sekadar mencetak manusia pintar, tetapi membentuk manusia seutuhnya: yang berpikir, merasa, dan bertindak dalam kerangka nilai Ilahi.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebagai mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di universitas Islam, saya merasakan langsung bagaimana identitas keislaman di kampus seringkali hadir sebatas simbol. Sebagian besar mata kuliah yang saya pelajari berfokus pada bidang studi saya, seperti reading, speaking, grammar. Hanya ada satu mata kuliah keagamaan, dan itu pun terasa sebagai pelengkap, bukan inti pendidikan. Pembahasan seputar nilai-nilai spiritual dan etika Islam jarang sekali muncul dalam kelas—seolah-olah iman dan ilmu berjalan pada jalur masing-masing. Padahal, bukankah semestinya universitas Islam menjadi ruang tempat keduanya saling menguatkan?

Tinggalkan Balasan