Menjaga Ruh Islam di Tengah Sekularisasi Kampus

Di Indonesia, negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, fenomena sekularisme terasa cukup unik. Banyak universitas Islam yang secara resmi mengusung label keislaman, namun dalam praktik akademiknya belum sepenuhnya mencerminkan penyatuan antara ilmu pengetahuan dan agama. Mahasiswa memang didorong untuk berpikir kritis dan mandiri, tetapi sering kali tak dibarengi dengan pembinaan moral dan spiritualitas yang kuat.

Hal ini memicu pertanyaan: apa yang membedakan antara universitas Islam dengan universitas umum apabila nilai-nilai Islam tidak terlihat dalam sistem pendidikan, budaya kampus, dan orientasi keilmuannya? Sekularisasi bukan sepenuhnya harus ditolak. Ia juga membawa nilai positif seperti objektivitas, kebebasan berpikir, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Namun universitas Islam harus mampu menyikapinya secara bijak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tugas universitas Islam bukanlah menghindari modernitas, melainkan mengintegrasikannya dengan nilai-nilai keislaman secara kreatif. Kurikulum seharusnya disusun sedemikian rupa agar ajaran Islam tidak hanya terbatas pada mata kuliah agama, tetapi juga hadir dalam berbagai bidang studi. Seperti yang ditegaskan oleh Syekh Muhammad Naquib Al Attas, “Tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang beradab, bukan hanya manusia yang cerdas.”

Tinggalkan Balasan