Mens Rea dan Humor Gus Dur

Dunia politik dan ruang publik Indonesia hari ini tampak seperti sebuah panggung yang tegang, kaku, dan seringkali kehilangan selera humor. Di media sosial, ketersinggungan menjadi komoditas harian; sebuah pernyataan salah ucap bisa berujung pada persekusi digital. Sementara, perdebatan kebijakan seringkali terjebak dalam legalisme formal yang kering dari substansi kemanusiaan. Dalam situasi “darurat tawa” ini, ingatan kita secara kolektif seringkali kembali pada sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Gus Dur bukan sekadar mantan Presiden atau pemimpin NU. Ia adalah sebuah fenomena budaya yang berhasil mengawinkan kedalaman fikih (hukum Islam) dengan kelenturan humor, serta ketajaman analisis politik dengan ketulusan mens rea (niat batin) yang luhur. Mengkaji fenomena aktual saat ini melalui kacamata Gus Dur, dunia santri, dan konsep mens rea memberikan kita perspektif baru untuk menyembuhkan luka sosial bangsa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Subversif dan Katarsis Sosial

Bagi Gus Dur, humor bukanlah sekadar selingan. Di dalam tradisi dunia santri, humor adalah metode pedagogis sekaligus mekanisme pertahanan diri. Pesantren adalah ruang yang sangat hierarkis, namun di saat yang sama sangat egaliter melalui humor. Seorang santri bisa menertawakan perilaku kiainya tanpa kehilangan rasa takzim. Sebaliknya, seorang kiai bisa mendidik santrinya melalui anekdot yang menyentil tanpa harus menghakimi.

Dalam konteks sosiokultural Indonesia yang majemuk, humor berfungsi sebagai “pelumas” sosial. Sebagaimana ditulis dalam antologi esainya, Melawan Melalui Lelucon (2000), Gus Dur memandang humor sebagai manifestasi dari kedaulatan berpikir. Saat ini, kita menyaksikan fenomena di mana orang begitu mudah “baper” (bawa perasaan) dan merasa paling benar. Humor Gus Dur mengajarkan kita untuk tidak terlalu serius memandang diri sendiri. Ketika seseorang mampu menertawakan dirinya sendiri, ia sedang meruntuhkan ego yang seringkali menjadi akar konflik.

Secara politik kebangsaan, humor Gus Dur adalah alat de-eskalasi. Di tengah ketegangan antarkelompok, sebuah lelucon bisa mencairkan suasana yang paling beku sekalipun. Fenomena hari ini yang menunjukkan kecenderungan otoritarianisme kecil di ruang digital—di mana kritik dianggap penghinaan—menunjukkan betapa kita merindukan pemimpin yang memiliki kerendahan hati untuk tertawa.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan