Kakek sedang asik membersihkan tumpukan wayang lamanya, di depan Televisi yang sedang menyiarkan berita, di ruang tamu yang sepi penghuni. Sang cucu sedang asik menjalankan mobil mainannya di kamar. Meluncurkan imajinasinya, melarutkan kesenangannya. Mereka melakukannya sepanjang pagi. Orang-orang dewasa lainya sedang bekerja di luar. Dengan kesibukan dan rutinitas yang melelahkan.
Menjelang siang si cucu merasa bosan sendirian. Jemu hanya bermain dalam kamar dengan penuh mainan. Dari yang manual, imajinatif, sampai edukatif. Akhirnya ia keluar kamar untuk pertama kalinya pagi ini. Sang kakek masih asik dengan wayangnya, kenangannya, dan cerita di baliknya. Si cucu yang dari dapur menggenggam segelas air putih menghampiri kakeknya.

“Itu wayang kakek?”
“Iya, barang berharga kakek.”
“Oh, aku tahu ini….”
Si cucu mulai menyebutkan satu per satu tokoh wayang yang ada di kotak lama kakeknya. Dari mulai Arjuna hingga seterusnya. Setahu yang dia pelajari, sekuat yang dia ingat dari pelajaran sekolah. Namun ada satu sosok yang tak dia tahu. Bentuknya seperti perawakan wayang kesatria, namun batiknya hitam abu-abu, coraknya kusam dan tak mencolok layaknya wayang lain. Namun yang tak sama itu membuat ketertarikan sediri di hati bocah itu.
“Hmm… ternyata seleramu memang bagus nak,” jawab kakek sebelum sang cucu bertanya.
“Ini… wayang apa?”
“Prabu Bayangan,” jawab kakek tegas dan singkat. Dengan nada agak dibesar-besarkan dan membusungkan dada.
