Prabu Bayangan

Namun dari perkataannya tersebut si cucu yang masih belia tak mudeng dengan maksudnya. Lalu Sang Prabu berucap kembali bahwa hanya manusia yang berani mengorbankan seluruh dirinya, jiwa dan raganya dalam sebuah tirakat yang mampu memperoleh bantuan dari Sang Prabu. Bila kedua belah pihak melakukannya, maka tinggal tekad mana yang lebih menancap kuat ke bumi.

“Tirakat itu apa, kek?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ho-ho-ho. Itu laku spiritual untuk menguji diri.”

“Dari apa? Kenapa?” lontar si cucu lagi.

“Dari semua godaan selain tujuan, le. Dan seberat-beratnya musuh ada dalam diri orang itu sendiri.”

Sejak pagi kakek sudah menceritakan berbagai hal tentang si wayang. Cucunya sampai tak sadar mangkuk serealnya telah habis berjam-jam lalu. Angin di luar sudah mulai meniupkan hawa kegerahan. Sebelum membungkus kembali wayang-wayangnya dengan rapi, Sang Prabu kembali dipegang dengan mantab. Dan diarahkan menuju sang cucu.

“Le, dunyo ini bakal semakin hancur ketika manusia semakin kedoniyan. Ketika itu terjadi, maka ikutilah jalanku. Maka Tuhan akan merestui hidupmu,” ucap kakek seolah itu pesan langsung dari Sang Prabu. Lalu mengembalikan wujud sang wayang ke kotak penyimpanannya.

Kedua teman akrab beda usia itu lalu beranjak ke dapur. Mencari makanan untuk lambung mereka yang bergemuruh. Makanan biasanya tersedia untuk mereka berdua sedari pagi hingga sore. Hasil masakan si Ibu yang pagi buta telah bangun, menyiapkan bekal sang ayah. Menyiapkan makanan untuk mereka berdua, dan menyiapkan batinnya untuk kembali bekerja sedari pagi hingga petang. Tak ada yang mereka berdua beri selain makanan dan uang. Untuk masalah kasih sayang dan perhatian, si kakek yang memberikannya untuk saat ini. Entah sampai kapan Izrail datang mengajaknya pergi.

Tinggalkan Balasan