Prabu Bayangan

Cucunya semakin kebingungan. Dalam beberapa kisah yang dia tahu tak pernah ada tokoh itu. Atau mungkin dia yang masih kurang dalam mempelajari kisah pewayangan. Namun dia masih berkutik dalam benaknya saja. Seakan menggali-nggali pengetahuannya yang hilang. Padahal memang tak pernah ada.

“Wayang adalah manifestasi sifat manusia,” ucap pak tua itu masih dengan mengelapi wayang-wayangnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bahkan, katanya, mereka adalah bentuk manusia yang dimasukkan dalam sebuah kisah, dibekukan oleh sejarah, dan lalu dialirkan oleh waktu. Hingga saat ini kita masih bisa mengenangnya. Pun, seperti sang Prabu Bayangan ini. Adalah manifestasi kesepian yang sejati, bentuk keikhlasan sebenarnya.

“Bukankah semua juga berjuang, kek?”

“Iya, menurut kebenaran yang mereka genggam.”

Tapi tidak dengan Prabu Bayangan. Dia menggenggam kebenarannya lebih kuat dari segalanya. Bahwa bayangnya tak pernah berpihak pada cahaya atau kegelapan. Pernah sekali sisi cahaya dan sekali sisi kegelapan mengulurkan tangan. Mereka berbicara tentang impiannya masing-masing. Menjunjung harapannya sendiri-sendiri. Namun sang Prabu berdiri lalu membelakangi mereka dan berkata, “Bagi kalian harapan adalah kunci, tapi bayangan tak pernah punya pengharapan,” lalu dia pergi kembali ke tempatnya semedi.

Dalam menyimak cerita kakek, si cucu sempat terkesima dengan sosok Prabu Bayangan. Di sebuah perang tak ada kebenaran sesungguhnya. Saat itulah di mana manusia dan hewan tak lagi bisa dibedakan sifatnya.

“Lalu Prabu Bayangan memilih pihak mana, kek?” sela sang cucu pada cerita kakeknya yang membuatnya terkekeh.

“Bayangan hanya mengikuti mereka yang telah mantab hatinya menerima konsekuensi dari perang!” kakek menggoyangkan telunjuk wayang seolah memang Sang Prabu yang berkata padanya langsung.

Tinggalkan Balasan