Antara Menulis Karya Ilmiah dan Sastra

Pada satu kesempatan, saat di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, saya berbincang dengan seorang teman tentang ketertarikan saya di dunia sastra. Tanggapannya ternyata cukup merisaukan. Ia bilang, karya sastra terlalu “rendah” untuk seseorang yang memiliki latar belakang ilmiah. Sastra kurang tepat bagi mereka yang terbiasa membahas hal-hal yang ketat dengan metodologi dan penuh argumentasi.

Pernyataan demikian itu cukup menggelitik di telinga. Karya sastra dipandang sebatas tulisan bebas, subjektif, dan kurang serius dibandingkan tulisan akademik. Bahkan, muncul anggapan bilamana seseorang yang semula aktif menulis karya ilmiah beralih menulis sastra, maka ia telah mengalami kemerosotan intelektual.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pandangan semacam ini boleh jadi lahir dari cara pandang tentang makna tulisan yang sempit. Seolah-olah, nilai sebuah tulisan hanya ditentukan oleh seberapa ketat metodologi yang digunakan, seberapa sistematis struktur argumennya, dan seberapa “akademik” bahasanya. Padahal, jika ditarik ke akar, tujuan inti sebuah tulisan adalah sebagai media untuk menyampaikan gagasan. Dalam hal ini, sastra juga merupakan bagian dari medium tersebut, atau bahkan dengan kelebihan tersendiri, karena penyajiannya menggunakan bahasa yang lebih hidup dan tentu juga menyentuh pengalaman manusia.

Bacalah karya sastra sebanyak-banyaknya, maka kita akan peka terhadap kehidupan, memperkaya pengetahuan, memahami berbagai perspektif (point of view), mendewasakan diri, serta terus berproses untuk menjadi subjek yang humanis. Begitulah kutipan sastrawan Amerika Serikat Laurence Perrine (1956) dalam artikel Agnes Setyowati bertajuk “Belajar Arti Kehidupan dari Karya Sastra.”

Dengan kata lain, karya sastra selain berorientasi pada permainan kata, nyatanya menjadi ruang ekspresi yang mampu menghadirkan makna secara lebih dalam. Tidak hanya sebatas berbicara kepada logika, sastra juga berbicara soal rasa sebuah tulisan. Bila karya ilmiah berada dalam wilayah analisis, maka sastra berada dalam wilayah pengalaman. Keduanya tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi.

Dalam hal ini, menarik untuk melihat tradisi keilmuan Islam di mana banyak tokoh besar yang selain dikenal sebagai ilmuwan, juga memiliki kemampuan dalam sastra. Misalnya, Jalal ad-Din as-Suyuti, ulama besar yang produktif menulis dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk memiliki perhatian besar terhadap sastra. Salah satu karya monumentalnya dalam bidang tersebut adalah Uqūd al-Jumān, karya yang menjadi bukti hebatnya wawasan beliau perihal keindahan bahasa, yang istilahnya masyhur dengan sebutan Ilmu Balaghah.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan