Apakah kita akan seperti tuhan? Kita sebagai sang pencipta artificial intellegence (AI), mesin pintar, lalu menitahnya untuk mencipta segalanya, sekehendak kita, dan kita tinggal ongkang-ongkang kaki?
Kita akan menempatkan “makhluk” yang semakin hari kian pintar ini sebagai apa? Di posisi mana? Kita dalam tulisan ini merujuk pada penulis, lebih khusus lagi pada penulis untuk www.duniasantri.co.

Tulisan ini dipantik percakapan saya dengan Mas Hilmi Faiq, redaktur budaya Harian Kompas, Minggu (19/4/2026). Mas Hilmi membisiki saya: hati-hati dengan tulisan yang “dibikinkan” oleh AI.
Mas Hilmi bercerita, rupanya banyak naskah yang dikirimkan ke Kompas, setelah ditelisik, seratus persen merupakan tulisan AI. Bukan karya asli penulisnya. Bahkan, katanya, naskah produksi AI itu tidak hanya dikirim oleh penulis-penulis pemula. Banyak penulis senior, bergelar profesor-doktor pula, juga mengirimkan naskah bikinan AI.
Kompas kemudian menggunakan aplikasi khusus untuk mendeteksi keaslian naskah yang masuk. Semua naskah yang terdeteksi dituliskan oleh AI dikembalikan kepada penulisnya, tanpa diberi catatan. “Biar mereka sadar sendiri,” kata Mas Hilmi.
