Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUAH) Komisariat UIN KHAS Jember menggelar kegiatan Pesantren Aswaja Jilid III, Jumat (17–19/4/2026). Pesantren Aswaja digelar untuk memperkuat nalar kader organisasi mahasiswa ini. Kegiatan ini berlangsung di Rumah Baca Arraudhah, Arjasa, Jember, dengan diikuti oleh delapan peserta dari kalangan kader rayon.
Acara yang dilaksanakan pada sore hari tersebut berjalan dengan khidmat. Seluruh rangkaian kegiatan dikelola langsung oleh pengurus rayon sebagai bagian dari program kerja bidang keilmuan dalam memperkuat proses kaderisasi.

Pesantren Aswaja Jilid III ini diselenggarakan sebagai upaya untuk menguatkan kembali pemahaman dasar Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Hal ini dinilai penting sebagai bekal awal sebelum mahasiswa menganalisis berbagai isu sosial keagamaan, aliran, maupun organisasi masyarakat.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bagi kader untuk meninjau kembali sejarah perkembangan pemikiran dalam Islam. Sebelum lahirnya konsep Aswaja, telah muncul berbagai firqah yang menjadi bagian dari dinamika keilmuan Islam. Oleh karena itu, pemahaman terhadap firqah-firqah tersebut menjadi penting agar tidak terjadi kesalahan dalam melihat realitas keagamaan.
Dalam kegiatan ini, panitia menghadirkan pemateri dosen UIN Kiai Ahmad Siddiq, Ahmad Badrus Solihin. Dalam penyampaiannya, ia mengulas sejarah firqah-firqah dalam Islam secara luas dengan pendekatan yang sistematis dan mudah dipahami, sehingga peserta dapat mengikuti materi dengan baik.
Materi yang disampaikan tidak hanya mencakup pengertian Aswaja, tetapi juga pembahasan berbagai aliran dalam Islam. Penyampaian yang komunikatif membuat peserta lebih mudah memahami keterkaitan antara sejarah, pemikiran, dan perkembangan keislaman.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen PMII Rayon FUAH Komisariat UIN KHAS Jember dalam menjaga kesinambungan kaderisasi melalui penguatan aspek keilmuan. Melalui Pesantren Aswaja ini, diharapkan kader memiliki dasar pemahaman yang kokoh sehingga mampu merespons berbagai persoalan keagamaan secara lebih bijak dan kontekstual.
