Apa kabar Litersi di Era Digital?

Dalam sejarah panjang manusia, karya tulis memiliki kontribusi besar dalam pembangunan peradaban. Sebuah karya tulis bisa dipahami sebagai semacam medium akumulasi pengetahuan (memory bank), yang dengannya manusia belajar dari kesalahan dan kegagalan para pendahulunya dalam membangun sebuah peradaban.

Selain itu, karya tulis juga acap kali memantik revolusi besar. Peradaban Mesopotamia (Sumeria)—yang pertama kali menciptakan aksara kuneiform, atau tulisan paku, pada sekitar 3200 SM—mengalami revolusi radikal di ranah hukum dengan lahirnya Kode Hammurabi. Masa keemasan (Golden Age) peradaban Islam pada abad ke-8 hingga ke-13 juga sangat dipengaruhi oleh banyak karya tulis, khususnya Al-Qanun fi al-Tibb (The Canon of Medicine) karya Ibnu Sina dan karya-karya terjemahan Yunani di Bayt al-Hikmah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hegemoni Eropa hari ini juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh karya-karya tulis seperti Principia Mathematica (Isaac Newton) dan Encyclopédie (Diderot & d’Alembert).

Revolusi ini mencapai kulminasinya ketika mesin cetak pertama kali ditemukan oleh Johannes Gutenberg. Sejak saat itu, sebuah karya tulis bisa dicetak secara massal dan pengetahuan tidak hanya bisa dinikmati oleh kaum elit, tetapi juga masyarakat umum.

Dua revolusi terbesar di abad modern, Revolusi Industri dan Sains, tidak bisa dilepaskan dari maraknya budaya baca-tulis di Eropa.

Sejalan dengan ini, Al-Ghazali pernah menuturkan, “Jika kamu bukan anak raja atau anak ulama, maka jadilah penulis.” Hal ini mengisyaratkan bahwa karya tulis adalah jalan untuk memberikan pengaruh bagi sebanyak mungkin orang.

Tinggalkan Balasan