Namun, seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang melahirkan dunia digital, minat baca-tulis masyarakat mengalami penurunan drastis. Konten audio visual yang melahirkan budaya baru, yaitu scrolling, mulai menggantikannya.
Sebagaimana dikutip dalam jurnal iScience, kecenderungan membaca di era digital mengalami penurunan sebesar 40%. Penurunan ini disebabkan maraknya konten audio visual di media sosial yang menawarkan kepuasan instan (instant gratification).

Minimnya minat baca masyarakat di era digital ini membuat banyak orang yang awalnya ingin menjadi penulis harus berpikir dua kali. Ditambah lagi, apresiasi lembaga pemerintah terhadap penulis acap kali tidak sebanding dengan dedikasi dan tebalnya buku yang ditulis. Di sisi lain, content creator jadi alternatif baru bagi mereka yang ingin menjadi manusia berdampak positif bagi banyak orang. Melalui konten edukatif, banyak orang terinspirasi dan teredukasi.
Sehingga pertanyaan yang muncul hari ini adalah: “Apakah sebuah karya tulis cetak masih memiliki andil yang signifikan dalam membangun sebuah peradaban?”
Jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa hitam-putih. Pertama, budaya baca-tulis memiliki aspek utility yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa digantikan oleh konten audio visual. Setidaknya ada dua manfaat besar yang diperoleh ketika seseorang membaca: manfaat informatif yang memperluas wawasan, dan manfaat formatif yang membentuk cara pandang serta karakter pembaca.
Kedua, ketika seseorang melihat konten audio visual, otak cenderung menerimanya secara pasif. Sedangkan dalam proses membaca, otak dipaksa bekerja untuk membangun visualisasi secara mandiri. Oleh para pakar neurosains, proses inilah yang mengaktifkan jaringan saraf yang lebih luas, memperkuat daya imajinasi, dan kreativitas.
