“Anu Ning, semoga Tolak tidak menyusahkan ya di sini,” ucap Mak Sum tiba-tiba, saat mengulurkan loyang dengan adonan kue yang tertata rapi dan menunggu untuk dimasukkan ke dalam oven.
“Oh nggak Mak, enggak…” jawabku sambil tersenyum.

Saya tiba-tiba ingat penuturan Dini, salah seorang santri putri yang membantu bersih-bersih ndalem. Waktu itu, saya sedang tiduran di lantai kamar sambil membaca novel dan para santri putri sedang menyapu ndalem. Ada Dini, Aina, dan Ira. Hari itu, semua orang di ndalem pergi menghadiri undangan pernikahan salah seorang alumni santri. Kecuali saya. Kebetulan saya memang tidak enak badan sehingga memutuskan untuk diam di rumah. Barangkali karena merasa di ndalem tidak ada orang, santri-santri putri itu bergosip meski tetap sambil bisik-bisik.
“Eh si Tolak itu agak-agak gimana,” Dini membuka percakapan.
“Gimana memangnya? Kan sekamar sama kamu ya?” tanya Ira penasaran.
