Wacana mengenai sifat-sifat Tuhan dalam agama-agama Abrahamik (Yudaisme, Kristen, dan Islam) selama berabad-abad didominasi oleh citra maskulin. Tuhan digambarkan sebagai Bapa, Raja, Hakim, dan Penguasa yang bersemayam di singgasana surgawi.
Citra tersebut terbentuk oleh konteks budaya patriarkal di mana teks-teks suci diturunkan dan ditafsirkan. Namun, di balik lapisan teologis yang tampak kaku itu, terdapat jejak-jejak yang tak terbantahkan tentang keberadaan sisi feminin Tuhan. Jejak ini menjadi dimensi fundamental dari hakikat ilahi yang selama ini terpinggirkan oleh hegemoni tafsir maskulin.

Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, dalam sebuah pengajian di Jakarta, menyatakan bahwa dalam 99 Asmaul Husna, sekitar 80 persen sifat Allah bersifat feminin sementara sifat maskulin hanya sekitar 20 persen . Ia menegaskan bahwa nama-nama Allah yang paling sering diulang adalah sifat penuh kasih, seperti Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dan Al-Qur’an selalu dibuka dengan sifat-sifat kasih sayang tersebut, bukan dengan sifat-sifat keras.
Pernyataan tersebut menantang asumsi umum bahwa Tuhan dalam Islam dan agama Abrahamik secara lebih luas adalah sosok maskulin yang galak dan menghukum. Jika mayoritas nama Tuhan justru merefleksikan sifat-sifat feminin, mengapa citra maskulin begitu mendominasi?
Jejak Feminin dalam Tradisi Yahudi
Dalam tradisi Yahudi, konsep Shekhinah menempati posisi sentral sebagai representasi sisi feminin Tuhan. Kata “Shekhinah” berasal dari akar kata Ibrani shakhan, yang berarti “berdiam” atau “tinggal”. Istilah ini merujuk pada kehadiran Tuhan yang intim dan dapat dirasakan, yang berdiam di tengah-tengah umat Israel.
Menariknya, Shekhinah adalah kata benda feminin dalam bahasa Ibrani. Dalam literatur rabinik, Shekhinah digambarkan sebagai kehadiran Tuhan yang menyertai Israel bahkan ke dalam pembuangan menjadi manifestasi dalam ibadah komunal, dan hadir pada momen-momen kebutuhan individu.
Perkembangan paling signifikan dari konsep Shekhinah terjadi dalam mistisisme Yahudi atau Kabbalah. Dalam Kabbalah, Shekhinah dipahami sebagai aspek feminin dari Tuhan yang memediasi antara surga dan bumi.
Gershom Scholem, sarjana terkemuka dalam studi Kabbalah menjelaskan bahwa dalam simbolisme Shekhinah terdapat konsep tentang perpecahan antara unsur maskulin dan feminin di dalam Ketuhanan. Pembuangan Shekhinah menjadi simbol dari dosa manusia dan tujuan tindakan religius adalah untuk mengakhiri pembuangan ini, menyatukan kembali Tuhan dengan Shekhinah-nya. Setiap tindakan religius dalam tradisi Kabbalah diiringi dengan formula: “ini dilakukan demi penyatuan kembali Tuhan dan Shekhinah-Nya” .
Rachel Elior dalam studinya tentang dimensi feminin Tuhan dalam tradisi mistik Yahudi, menunjukkan bagaimana simbol Shekhinah berfungsi sebagai jembatan antara pengalaman religius dan ekspresi gender. Beberapa feminist Yahudi kontemporer telah mereklamasi simbol Shekhinah untuk menantang bias patriarkal dalam teologi Yahudi, menafsirkan ulang tema-tema mistik dan menekankan simbol Shekhinah yang feminin dalam liturgi-liturgi baru. Selain Shekhinah, teks-teks Ibrani juga memuat gambaran-gambaran keibuan Tuhan. Dalam Kitab Yesaya, Tuhan digambarkan sebagai ibu yang menghibur: “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku akan menghibur kamu” (Yesaya 66:13).
Dalam kitab yang sama, Tuhan bertanya: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (Yesaya 49:15). Mazmur 131:2 melukiskan hubungan intim antara jiwa dengan Tuhan seperti anak yang tenang dalam dekapan ibunya.
Gambaran-gambaran ini bukanlah retorika semata; mereka mengungkapkan bahwa pengalaman keibuan adalah salah satu cara paling mendalam untuk memahami kasih Tuhan.
