Sisi Feminin Tuhan dalam Tradisi Abrahamik

Wacana mengenai sifat-sifat Tuhan dalam agama-agama Abrahamik (Yudaisme, Kristen, dan Islam) selama berabad-abad didominasi oleh citra maskulin. Tuhan digambarkan sebagai Bapa, Raja, Hakim, dan Penguasa yang bersemayam di singgasana surgawi.

Citra tersebut terbentuk oleh konteks budaya patriarkal di mana teks-teks suci diturunkan dan ditafsirkan. Namun, di balik lapisan teologis yang tampak kaku itu, terdapat jejak-jejak yang tak terbantahkan tentang keberadaan sisi feminin Tuhan. Jejak ini menjadi dimensi fundamental dari hakikat ilahi yang selama ini terpinggirkan oleh hegemoni tafsir maskulin.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, dalam sebuah pengajian di Jakarta, menyatakan bahwa dalam 99 Asmaul Husna, sekitar 80 persen sifat Allah bersifat feminin sementara sifat maskulin hanya sekitar 20 persen . Ia menegaskan bahwa nama-nama Allah yang paling sering diulang adalah sifat penuh kasih, seperti Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dan Al-Qur’an selalu dibuka dengan sifat-sifat kasih sayang tersebut, bukan dengan sifat-sifat keras.

Pernyataan tersebut menantang asumsi umum bahwa Tuhan dalam Islam dan agama Abrahamik secara lebih luas adalah sosok maskulin yang galak dan menghukum. Jika mayoritas nama Tuhan justru merefleksikan sifat-sifat feminin, mengapa citra maskulin begitu mendominasi?

Jejak Feminin dalam Tradisi Yahudi

Dalam tradisi Yahudi, konsep Shekhinah menempati posisi sentral sebagai representasi sisi feminin Tuhan. Kata “Shekhinah” berasal dari akar kata Ibrani shakhan, yang berarti “berdiam” atau “tinggal”. Istilah ini merujuk pada kehadiran Tuhan yang intim dan dapat dirasakan, yang berdiam di tengah-tengah umat Israel.

Menariknya, Shekhinah adalah kata benda feminin dalam bahasa Ibrani. Dalam literatur rabinik, Shekhinah digambarkan sebagai kehadiran Tuhan yang menyertai Israel bahkan ke dalam pembuangan menjadi manifestasi dalam ibadah komunal, dan hadir pada momen-momen kebutuhan individu.

Perkembangan paling signifikan dari konsep Shekhinah terjadi dalam mistisisme Yahudi atau Kabbalah. Dalam Kabbalah, Shekhinah dipahami sebagai aspek feminin dari Tuhan yang memediasi antara surga dan bumi.

Gershom Scholem, sarjana terkemuka dalam studi Kabbalah menjelaskan bahwa dalam simbolisme Shekhinah terdapat konsep tentang perpecahan antara unsur maskulin dan feminin di dalam Ketuhanan. Pembuangan Shekhinah menjadi simbol dari dosa manusia dan tujuan tindakan religius adalah untuk mengakhiri pembuangan ini, menyatukan kembali Tuhan dengan Shekhinah-nya. Setiap tindakan religius dalam tradisi Kabbalah diiringi dengan formula: “ini dilakukan demi penyatuan kembali Tuhan dan Shekhinah-Nya” .

Rachel Elior dalam studinya tentang dimensi feminin Tuhan dalam tradisi mistik Yahudi, menunjukkan bagaimana simbol Shekhinah berfungsi sebagai jembatan antara pengalaman religius dan ekspresi gender. Beberapa feminist Yahudi kontemporer telah mereklamasi simbol Shekhinah untuk menantang bias patriarkal dalam teologi Yahudi, menafsirkan ulang tema-tema mistik dan menekankan simbol Shekhinah yang feminin dalam liturgi-liturgi baru. Selain Shekhinah, teks-teks Ibrani juga memuat gambaran-gambaran keibuan Tuhan. Dalam Kitab Yesaya, Tuhan digambarkan sebagai ibu yang menghibur: “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku akan menghibur kamu” (Yesaya 66:13).

Dalam kitab yang sama, Tuhan bertanya: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (Yesaya 49:15). Mazmur 131:2 melukiskan hubungan intim antara jiwa dengan Tuhan seperti anak yang tenang dalam dekapan ibunya.

Gambaran-gambaran ini bukanlah retorika semata; mereka mengungkapkan bahwa pengalaman keibuan adalah salah satu cara paling mendalam untuk memahami kasih Tuhan.

Dimensi Feminin dalam Kekristenan

Dalam Kekristenan, jejak feminin Tuhan paling jelas terlihat dalam figur Sophia atau Hikmat Ilahi. Dalam Kitab Amsal, Sophia berbicara dalam orang pertama, berjalan di antara manusia dan berpartisipasi dalam penciptaan.

Dalam tradisi Kristen Timur, ikon-ikon Holy Wisdom of God dari Novgorod abad kelima belas menampilkan Sophia duduk di tengah, terbungkus merah menyala dengan sayap terentang. Ia tidak muncul sebagai ornamen atau atribut sekunder; kehadirannya menyatukan seluruh adegan dengan Kristus, Maria dan Yohanes berdiri di sekelilingnya seolah mengorbit pada jantung yang bercahaya ini.

Para teolog feminis seperti Elisabeth Schüssler Fiorenza dan Elizabeth Johnson telah menunjukkan bahwa Sophia adalah wajah relasional Tuhan, keintiman Tuhan dengan dunia. Ia bukan takhta, melainkan tarian. Ia bukan surga yang jauh, melainkan suara yang berjalan melalui jalan-jalan manusia, memanggilnya menuju kehidupan dan keadilan .

Gambaran Tuhan sebagai ibu juga muncul dalam tradisi Kristen. Rosemary Radford Ruether dan Elizabeth Johnson mengingatkan bahwa Alkitab berbicara tentang Tuhan yang melahirkan, yang tergerak seperti perempuan dalam persalinan, yang tidak dapat melupakan anak dari kandungannya.

Dalam Injil Matius, Yesus menggunakan citra induk ayam yang mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya untuk menggambarkan kasihnya (Matius 23:37). Gambaran ini bukan sekadar analogi; ia menunjukkan bahwa kepedulian dan kasih sayang yang secara budaya diasosiasikan dengan keibuan adalah metafora yang absah untuk menggambarkan tindakan Tuhan di dunia.

Dalam tradisi mistik Kristen abad pertengahan, beberapa tokoh seperti Julian of Norwich dan Bernard of Clairvaux menggunakan bahasa keibuan untuk menggambarkan Yesus. Caroline Walker Bynum, dalam studinya yang terkenal Jesus as Mother, mendokumentasikan bagaimana para mistikus Cistercian dan beberapa biarawati berbicara tentang Yesus atau Tuhan sebagai Ibu.

Meskipun Bynum mencatat bahwa tema ini “minor” dalam sebagian besar penulis abad pertengahan, keberadaannya menunjukkan bahwa bahasa feminin untuk Tuhan bukanlah penemuan modern, melainkan telah ada dalam tradisi Kristen itu sendiri.

Sisi Feminin Tuhan dalam Islam

Dalam Islam, diskusi tentang sifat-sifat Tuhan berpusat pada Asmaul Husna, 99 nama indah Allah. Nasaruddin Umar, Guru Besar Tafsir Al-Qur’an dan Imam Besar Masjid Istiqlal, secara provokatif menyatakan bahwa sekitar 80 persen dari nama-nama Allah bersifat feminin (jamaliyah), sementara hanya sebagian kecil yang bersifat maskulin (jalaliyah) . Ia mencontohkan bahwa Bismillahirrahmanirrahim muncul 114 kali dalam Al-Qur’an, dan kata Ar-Rahman disebut 57 kali. Dalam pandangannya, ini menunjukkan bahwa Allah lebih merupakan Tuhan yang feminin daripada Tuhan yang maskulin.

Pernyataan ini bukanlah sekadar tafsir idiosinkratik. Akar linguistik dari Ar-Rahman dan Ar-Rahim berasal dari kata rahmah, yang berarti kasih sayang, belas kasih, dan rahim. Dalam bahasa Arab, kata rahim (rahim) memiliki akar yang sama dengan rahmah. Hubungan etimologis ini menunjukkan bahwa kasih sayang ilahi secara mendalam terkait dengan pengalaman keibuan. Tuhan yang Maha Pengasih adalah Tuhan yang mengandung, merawat, dan melahirkan kehidupan.

Nasaruddin Umar juga menyoroti bahwa para nabi dalam Al-Qur’an menunjukkan karakter feminin seperti kasih sayang, kelembutan, dan empati. Ia menyatakan bahwa “Semua nabi adalah nabi feminin, tidak ada nabi maskulin dalam Al-Qur’an” . Pernyataan ini menantang pembacaan Al-Qur’an yang menekankan kekuasaan, hukuman dan dominasi sebagai atribut utama Tuhan dan para nabi-Nya.

Dalam penelitian akademis, ditemukan bahwa teologi perempuan adalah teologi yang menggali aspek-aspek feminin Tuhan demi kesetaraan gender. Perendahan terhadap kualitas feminin perempuan bernilai sama dengan pengabaian kualitas feminin Tuhan. Diskriminasi gender tidak memiliki legitimasi teologis, tetapi justru merupakan pengingkaran terhadap Tuhan secara utuh. Argumen ini sangat kuat: jika Tuhan sendiri memiliki sifat-sifat feminin, maka merendahkan sifat-sifat tersebut pada manusia berarti merendahkan Tuhan itu sendiri.

Mengapa Sisi Feminin Tuhan Penting?

Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah: mengapa pengakuan terhadap sisi feminin Tuhan menjadi begitu penting? Jawabannya terletak pada hubungan intrinsik antara citra Tuhan dan citra diri manusia. Dalam tradisi Abrahamik, manusia diciptakan “menurut gambar dan rupa Tuhan” (Imago Dei). Jika Tuhan secara eksklusif digambarkan sebagai maskulin, maka perempuan tidak sepenuhnya mencerminkan gambar ilahi. Ini memiliki konsekuensi sosial yang serius.

Feminist theologians telah berargumen secara persuasif bahwa pola mengkarakterisasi Tuhan terutama dalam istilah maskulin telah merugikan perempuan. Dalam sebuah komunitas yang seksis, perempuan dapat dihargai sejauh mereka memenuhi peran gender yang diharapkan, sementara pada saat yang sama meremehkan peran itu sendiri . Ketika Tuhan dibayangkan sebagai Bapa, Raja, dan Hakim semua peran yang secara historis didominasi laki-laki maka struktur kekuasaan yang menempatkan laki-laki di atas perempuan mendapatkan legitimasi ilahi.

Pengakuan terhadap sisi feminin Tuhan membuka ruang bagi perempuan untuk melihat diri mereka sebagai pembawa gambar ilahi yang utuh. Jika Tuhan dapat digambarkan sebagai ibu yang melahirkan, merawat, dan menghibur maka pekerjaan mengasuh dan merawat yang secara historis dibebankan pada perempuan mendapatkan nilai teologis yang setara dengan pekerjaan yang secara budaya dianggap maskulin.

Teologi feminis telah menantang kerangka imajinasi yang telah berabad-abad membentuk pemahaman tentang yang sakral. Ketika para teolog feminis mempertanyakan cermin maskulin ini, mereka tidak hanya meminta menambahkan beberapa wajah feminin di pinggiran.

Mereka memahami bahwa kerangka itu sendiri perlu diubah. Citra-citra yang digunakan komunitas untuk berbicara tentang yang sakral menjadi cermin melalui mana komunitas melihat dirinya sendiri. Mereka membentuk silsilah makna, bentuk-bentuk perawatan, hubungan sosial dan praktik liturgi.

Elaine Pagels dalam studinya tentang Gnostisisme menunjukkan bahwa gerakan Gnostik awal menawarkan visi ketuhanan yang jauh lebih inklusif daripada ortodoksi yang akhirnya menang. Dalam skema Gnostik, Tuhan digambarkan sebagai makhluk diadik yang terdiri dari unsur maskulin dan feminin, kadang-kadang disebut “ibu-bapa” (matropater). Doa-doa dipanjatkan kepada Bapa Ilahi dan Ibu Ilahi. Pagels menunjukkan simpati yang cukup besar terhadap konsepsi-konsepsi ini, dan bahkan nostalgia atas hilangnya pandangan-pandangan ketuhanan yang inklusif yang ditolak oleh Yudaisme dan Kekristenan ortodoks .

Penggalian sisi feminin Tuhan dalam agama Abrahamik untuk memulihkan keseimbangan yang telah hilang. Tuhan dalam tradisi-tradisi ini melampaui kategori gender manusia. Namun, bahasa dan citra yang digunakan untuk berbicara tentang Tuhan memiliki konsekuensi nyata bagi cara manusia memahami diri mereka sendiri dan hubungan mereka satu sama lain.

Dalil-dalil tekstual dari ketiga agama menunjukkan bahwa bahasa feminin untuk Tuhan bukanlah penyimpangan atau inovasi modern. Shekhinah dalam tradisi Yahudi, Sophia dan citra keibuan dalam Kekristenan, serta Ar-Rahman dan Ar-Rahim dalam Islam semuanya memberikan bukti bahwa sisi feminin ilahi telah ada sejak awal. Yang terjadi kemudian adalah marginalisasi sistematis terhadap dimensi ini oleh tafsir-tafsir yang didominasi laki-laki dan kepentingan-kepentingan patriarkal.

Para pemikir kontemporer seperti Nasaruddin Umar, Elisabeth Schüssler Fiorenza, Elizabeth Johnson, dan Rosemary Radford Ruether telah menunjukkan bahwa pemulihan sisi feminin Tuhan bukan hanya proyek teologis, tetapi juga proyek pembebasan. Jika Tuhan memiliki rahim yang penuh kasih sayang, jika Tuhan melahirkan dan merawat, maka merendahkan perempuan dan sifat-sifat feminin berarti merendahkan Tuhan sendiri.

Masa depan teologi Abrahamik yang utuh menuntut keberanian untuk mengakui bahwa Tuhan tidak dapat dikurung dalam satu citra saja. Tuhan yang Maha Besar tidak dapat direduksi menjadi Bapa saja, atau Raja saja, atau Hakim saja. Tuhan juga adalah Ibu, Kekasih, Sophia, dan Shekhinah. Dalam mengakui keragaman citra ilahi ini, manusia tidak hanya menjadi lebih jujur tentang siapa Tuhan, tetapi juga menjadi lebih adil terhadap sesama manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya.

Tinggalkan Balasan