Duka Tukang Batu

Dengan perut buncit, istriku terus beraktivitas. Sepagi ini dia telah menyeduh kopi. Ditemaninya pula aku meminum kopi itu. Setelah itu dia merebus terung yang baru dipetik dari belakang kandang ayam. Ada pula kudapan bayam dan daun singkong muda dalam rebusan itu.

“Belum ada uang untuk beli baju-baju persiapan kelahiran anak kita, Mas?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertanyaan sederhana itu seketika membuat naluriku sebagai seorang suami bergejolak. Memang rencana untuk belanja ke pasar guna persiapan menyambut calon jabang bayi telah kami rencanakan sejak beberapa minggu yang lalu, akan tetapi keadaan keuangan yang terus terkuras membuat rencana itu menguap seperti menguapnya kopi buatannya.

Dan pertanyaan itu kujawab dengan untaian janji belaka.

“Nanti kalau Pak Ateng sudah membayar batu-batuku, kamu akan segera kuajak ke pasar,” jawabku kemudian.

Istriku mengangguk, kemudian bergerak ke sana ke mari mencari bumbu ini dan itu. Lalu ia menumbuk bumbu-bumbu itu di cobek yang telah patah ujungnya. Aku menyeruput kopi lagi sembari menikmati pagi.

Usai sarapan, aku berangkat ke bukit penambangan batu; tempat kami mencari sesuap nasi untuk menghidupi anak-istri, tempat kami memeras keringat dan membanting tulang untuk melanjutkan kehidupan.

“Im! Ayo pulang!” teriak seseorang di seberang bukit.

Ternyata dia Suji, tetangga yang juga teman sesama pencari batu. Dia selalu pulang lebih awal dariku. Pantas saja dia kerja asal-asalan, perjaka tua itu tak punya beban menafkahi keluarga. Tak bekerja sehari pun tak akan ada yang menuntutnya kekurangan uang belanja. Kata orang, uangnya habis untuk main wanita dan mencicipi istri orang.

“Kau duluan, Ji!” aku memekik lantang, lantas berjibaku lagi dengan palu, membanting bebatuan. Suasana perbukitan mulai lengang. Burung sriti dan kelelawar beterbangan menghiasi sore. Dan rasa lelah semakin menyergapku.

Motor supra yang mulai beranjak renta mengantarku pulang ketika siang hampir berganti petang. Gas motor semakin kutekan. Keringat yang membasahi tengkuk dan tubuhku kemudian menguar berganti dingin. Pikiranku mulai meracau mencari jawab atas pertanyaan istriku tentang persiapan menyambut jabang bayi di kandungannya.

“Apa Pak Ateng belum juga membayar batu-batumu Mas?” tanya istriku ketika malam beranjak larut.

Lalu kuberi lagi dia janji, bahwa ketika senja kembali datang esok hari, akan kubawakan dia uang hasil jerih payahku itu.

Pagi-pagi sekali aku bertandang ke rumah Pak Ateng di dekat pasar. Kupakai sopan santunku berbasa-basi dengan orang kaya itu. Sepertinya dia mau berbelas kasihan padaku.

“Memangnya sudah dapat berapa rit batumu, Im?” tanya Pak Ateng.

“Satu-dua hari lagi sudah dapat lima rit, Pak,” jawabku meyakinkan. Lima rit adalah jumlah batu yang nominal uangnya setara dengan jumlah utangku.

Dia menjentikkan rokok di asbak di depanku. Kepulan asap memenuhi ruangan sempit yang pengap. Lelaki itu terbatuk.

“Dapat kupegang ucapanmu itu, Im?” dia bertanya lagi, seolah tak percaya ucapanku. Sepertinya dia memang tak percaya aku akan secepat itu mendapatkan batu.

“Tentu saja, Pak,” aku menjawab singkat, namun menyimpan keraguan. Janji untuk membawa pulang uang pada istriku akan kupenuhi petang nanti. Dan untuk memenuhi janji pada Pak Ateng; biar waktu saja yang menjawab kepastiannya.

Pak Ateng kemudian memberikan selembar amplop padaku. Ketika tanganku hendak menggapai amplop itu, dia terbatuk-batuk panjang. Kuurungkan uluran tanganku.

“Ya sudah. Berangkatlah kerja, keburu habis stok batumu diambil Suji dan Santo,” tukasnya.

Beringsut aku membawa selembar amplop berisi uang utangan itu. Lalu terlintas wajah senang istriku. Nanti malam akan kuajak dia ke toko Pak Kamil yang lengkap itu untuk membeli perlengkapan bayi. Setelah itu akan kuajak dia makan nasi goreng dekat perempatan jalan sambil mengenangkan masa lalu. Rasa bahagia semerbak menghias pikiranku. Sambil menggeber motor supra menuju tempat penggalian batu, kususun rencana menjelang kelahiran anak pertamaku.
Setibanya di lokasi penambangan batu, kulihat suji sedang menunggu. Kuparkir supra asal-asalan di tepi jalan. Kututupi dengan semak-semak kering.

“Sudah di sini kau, Ji?” sapaku kemudian.

“Darimana saja kamu?” tetangga sebelah rumah itu menyambut kedatanganku dengan pertanyaan yang sulit kujawab.

Tinggalkan Balasan